Sesuai dengan temanya, “BERAMAL”, tujuan pendalaman APP 3, pada Jumat 17 Maret yang lalu, adalah untuk mengajak Oma dan Opa PSA agar lebih banyak berbuat amal dan kebaikan dalam sisa kehidupannya.
Sebagaimana biasanya, kegiatan diawali dengan Doa Pagi yang tenang dan teduh. Kemudian dilanjutkan dengan melihat pada 3 point:
- Kilas Balik dari Jumat yang lalu, Pra Paskah 2 / APP 2
- LANJUTAN APP Oma-Opa PSA
- Film “Pay It Forward”
Agar pendalaman ini dapat diikuti dan dipahami dengan baik oleh Oma dan Opa dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda, Sr. Petro mengambil lagu, permenungan, dan beberapa materi yang lebih bersifat universal.

PENDALAMAN 1: KILAS BALIK DARI PRA PASKAH 2 / APP 2

PENDALAMAN 2, PRA PASKAH 3 / APP 3: B3 – “BERAMAL”

Sr. Petro mengawali pendalaman materi tentang “AMAL” atau “BERAMAL” ini dengan 2 Film Pendek berikut untuk memancing dialog interaktif dengan Oma dan Opa.
“Pesan apa yang dapat Oma / Opa lihat dari 2 Film Pendek ini?”
REFLEKSI:
- Apa yang paling Anda cari dalam hidup ini? Apa tujuan utama yang ingin Anda capai?
- Apa sebenarnya yang paling bisa membahagiakan kita? Bagaimana kita dapat memperoleh hal itu?
PENDALAMAN TEMA “AMAL” / “BERAMAL”
Amal, Derma, Sumbangan, Sedekah, atau Donasi umum diketahui sebagai pemberian yang bersifat fisik/nyata, sukarela, dan ikhlas. Selain itu, posisi Pemberi sering diartikan sebagai seorang yang punya kelebihan, padahal tidak selalu harus demikian.
Contoh:
“Amal timbal balik antara: Pengurus YSA dengan Staf / Pegawai yang bekerja di PSA dan Oma – Opa yang tinggal di PSA”
a. Pengurus YSA sebagai Pengelola melakukan AMAL dengan: secara fisik/nyata mengupayakan konsumsi dan akomodasi, lingkungan yang sehat & suasana yang tenang, aman, nyaman, dan damai, suasana yang menyaudara dan kekeluargaan, pelayanan yang tidak membeda-bedakan, dlsb. kepada seluruh Penghuni Panti, baik Oma dan Opa, maupun para Pegawai dan Perawat, serta Staf Panti.
- Kendati Oma dan Opa hanya mampu membayar Uang Asrama seadanya, atau bahkan ada yang tidak mampu membayar sepeserpun.
- Para Staf dan Pegawai senang bekerja disini, dan masih tetap bisa memberikan sedikit dukungan pada keluarganya di kampung, kendati gaji mereka tidak besar. Mereka bersyukur karena tanpa YSA mungkin saja mereka masih hidup di kampung dan belum punya pekerjaan.
b. Amal Staf & Para Pegawai kepada YSA dan Oma-Opa: Kinerja dan etos kerja yang baik dari para Staf dan Pegawai akan menentukan dan sangat membantu melancarkan pelayanan sehari-hari di Panti, serta menjadi pendukung dalam memajukan dan mempromosikan PSA ini. Bentuk pelayanan dan pengabdian secara fisik/nyata, ikhlas dan sukarela dari pihak Staf & Pegawai PSA merupakan Amal bagi Oma, Opa, dan YSA.
c. Amal para Oma dan Opa yang tinggal di Panti: dengan menikmati tinggal di Panti, hidup positif, optimis, dan penuh syukur setiap hari, menghargai setiap bantuan dan pelayanan yang diberikan oleh para Suster, Pegawai, dan Perawat, menghargai dan ikut memelihara segala fasilitas yang ada, ikut menjaga nama baik Panti, saling dukung – memperhatikan – menghargai antara sesama Oma-Opa, menyambut Tamu-tamu yang berkunjung dengan gembira, mendoakan keluarga dengan setia, memiliki niat dan kehendak yang baik untuk menjadi hidup sebagai berkat bagi orang lain, dlsb.
Jadi, berderma tidak melulu UANG, atau dilakukan oleh orang yang memiliki LEBIH saja. Setiap interaksi yang kita lakukan, sekecil apapun itu, merupakan bentuk derma, sejauh itu tidak dipaksakan, tidak ada unsur perbudakan, pelecehan, penindasan, perendahan, tidak ada tindak kriminalitas.
Mengenai BERSEDEKAH atau BERAMAL ini, Yesus berkata:
“Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah2 ibadat dan di lorong2, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat. 6:2-4)
Jadi, tindakan beramal atau bersedekah ini harus dilakukan dengan tulus dan bukan karena kewajiban atau karena terpaksa atau supaya dipuji oleh orang lain. Beramal atau bersedekah juga sebaiknya tidak perlu dipamerkan ke seluruh dunia melalui media sosial. Sedekah yg berkenan pd Tuhan adalah yg dilakukan dg tulus dan tanpa pamrih.
Dalam filsafat Buddhisme, berderma disebut dengan BERDANA, yang diartikan sebagai perbuatan baik yang menjadi landasan dari semua perbuatan baik lainnya.
Berdana ini ada 4 bentuk:
1. “AMISA DANA”: Segala bentuk materi yang diberikan secara ikhlas, sukarela, tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Misal:
- Memberi sedekah pada orang miskin, bantuan uang pembangunan rumah ibadah, rumah jompo, panti asuhan, pada korban bencana alam.
- Memberi oleh-oleh pada teman, kado natal pada tetangga, angpao pada Orangtua.
2. “PARICAYA DANA”: Dana dalam bentuk tenaga.
Misal:
- Membantu Ayah-Ibu melakukan pekerjaan rumah, bergotong-royong membersihkan parit, bergiliran menjaga keamanan.
- Meringankan pekerjaan orang lain.
3. “ABHAYA DANA”: Memberikan perasaan nyaman dan aman.
Misal:
- Bersikap ramah, senyum, menjaga sikap agar orang lain tidak kuatir, tidak meneror orang.
- Memaafkan orang yang pernah menyakiti kita, tidak bersikap berlebihan bila ditegur/dimarahi, berempati pada orang yang kemalangan.
- Tidak melukai/membunuh sesama makhluk hidup, tidak melakukan upaya-upaya provokasi yang bisa menimbulkan kekacauan, tidak mengadu-domba yang menyebabkan terjadinya perkelahian, tidak menyebar gosip/fitnah.
4. “DHAMMA DANA”: menyebarkan kebaikan dan cintakasih.
Misal:
- Memberikan arahan, nasehat, pengajaran, ilmu pengetahuan
- Membuat tulisan.
- Memberikan informasi yang benar untuk menambah dan meluaskan wawasan/pengetahuan orang lain.
- Memberikan informasi yang bermanfaat, tidak menyakiti diri sendiri ataupun bertujuan menyakiti orang lain.
Dalam Kekristenan, DANA ini disebut KEBAJIKAN / KEUTAMAAN, termasuk di dalamnya melakukan perbuatan-perbuatan cintakasih atau belaskasih.
Di dalam Injil Matius 25:31-46, tentang “Penghakiman Terakhir” dikatakan:
“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang daripada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang disediakan untuk Iblis dan pengikut-pengikutnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
Berdana ini TIDAK HANYA MEMBERI, tetapi juga MELEPASKAN, yaitu sebagai bentuk Latihan PENGOSONGAN DIRI dari KELEKATAN terhadap:
- Orang / Manusia dan mahluk hidup lainnya
- Harta dan Benda
- Keinginan
- Kemampuan yang ada dlm diri
- Pikiran, emosi, perasaan, seperti: kekhawatiran, kecemasan, kesedihan, kesusahan, kesakitan, kesombongan, kebanggaan, kegembiraan, kebahagiaan, dst.
Inilah yang disebut juga sebagai ASKESE / MATI RAGA / ABSTINENSI dalam Kekristenan (yang akan merupakan pendalaman Pra Paskah 4 / APP 4 PSA).
Menurut Filsafat Buddhis, ada 5 cara berdana yang baik:
1. Berdana dengan keyakinan: dimana ada 3 factor dari si Pemberi, yakni (a) ia bergembira sebelum memberi; (b) ia memiliki pikiran yang tenteram dan penuh kepercayaan dalam tindakan memberi; dan (c) ia bersukacita setelah memberi.
2. Berdana dengan rasa hormat: ketika berdana ia mampu menjaga ucapan dan sikap badan jasmaninya, ia melakukannya dengan benar, hati-hati, dan dengan tangan sendiri, tidak memberi seolah-olah membuang sesuatu atau untuk mendapatkan balasan, ia menghormati orang yang diberi serta orang-orang yang ada di sekitar yang juga punya tujuan dan niat yang sama.
3. Berdana tepat waktu, yaitu: pada tamu, pada orang yang dalam perjalanan, pada pasien, pada masa kelaparan, pada yang bermoral.
4. Berdana dengan murah hati: benar-benar dengan tujuan melepas, bebas dari kekikiran, bukan untuk keuntungan duniawi. Ia senang dalam berdana dan bersukacita dalam memberi.
5. Berdana dengan tidak mencelakai: bukan untuk merendahkan orang lain dan menyombongkan diri sendiri, materi yang didanakan tidak diperoleh dengan cara merugikan pihak lain, dilakukan dengan bijak.
“Barang siapa mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan jalan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka setelah mati ia tak akan memperoleh kebahagiaan” (Dhammapada 131).
PENDALAMAN 3: FILM “PAY IT FORWARD”
Sr. Petro mengakhiri pendalaman ke-3 dari APP 3 ini dengan memutar sebuah film yang berjudul “Pay It Forward“. Film ini menggambarkan sebuah manfaat dari sebuah tindakan kebaikan yang harus diteruskan dengan kebaikan lainnya yang dilakukan kepada orang lain. Jadi, gagasan yang menekankan pemberian pertolongan secara beruntun. Misal: kita membantu tiga orang yang kesulitan, ketiga orang tersebut bisa saja keluarga, teman atau orang asing sekalipun. Lalu masing-masing dari orang tersebut harus meneruskan menolong tiga orang lainnya yang juga kesulitan. Dst.
Sebuah kebaikan mungkin tidaklah terlihat luar biasa, namun ketika kebaikan tersebut menginspirasi kebaikan yang lain, maka akan memberi dampak sosial yg dahsyat.

Dapatkah kita melakukan Amal kita dengan Pay it forward ?
CARANYA: MULAI DARI APA YANG KITA BISA
a. Memelihara energi yang baik dalam Diri Sendiri
Ada sebuah quote yang menyatakan bahwa waktu yang paling buruk bisa menjadi yang paling baik jika kita berpikir dengan energi positif. Energi positif atau energi baik adalah energi alami yang mendukung kehidupan. Para leluhur menyebut energi ini sebagai “chi” atau “prana”. Hal yang lumrah tentunya apabila kita menjadi lemah dan negatif seiring naik dan turunnya kehidupan. Namun demikian kita tetap memiliki tanggungjawab untuk membawa diri kita bangkit dari perasaan negatif tersebut tanpa harus pasif menunggu bantuan orang lain. Mari kita belajar membawa/menghadirkan hal-hal positif ke dalam kehidupan kita dan orang lain, dan bukan sebaliknya. = Sebarkan Energi Baik Mulai dari Diri Sendiri =
b. Menyebar luaskan energi yang baik itu
Hal yang baik patut untuk disebar luaskan. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menebar kebaikan, salah satunya dg Pay It Forward. Tak perlu dengan melakukan kebaikan besar, mulailah dengan apa yang kita bisa lakukan:
- Mulai dari diri sendiri, seperti: memberi waktu istirahat bagi tubuh agar sehat fisik dan mental, dengan tidur yang cukup, makanan yang sehat dan bergizi, berdoa/meditasi, olahraga, dll.
- Lakukan di Lingkungan Terdekat: keluarga, teman, tetangga, lingkungan, dst, misal: dengan peka terhadap orang di sekitarmu untuk mengetahui apa yang dia suka/tidak suka, menawarkan bantuan tetapi jangan memaksa bila dia menolak, memberi senyum, menyapa, berterimakasih, bila tidak mampu menolong maka jangan menambah beban, kesulitan, dan pekerjaan orang lain, dst.

