Terlintas bayangan itu kembali

Ketika Ia terhuyung memikul kayu Salib yang berat

Ku rasakan kesakitan dari Tubuh yang disesah itu

Mengucur Darah dan air mata Kasih

Dia tergantung pasrah tiada berdaya

Dikelilingi deraan hujatan dan umpatan

Tanpa pembelaan, tiada belaskasih.

 

Dalam keheningan nan sendu di pagi ini

Ketika ku memandang pada Salib-Mu

Ku lihat sorot mata penuh penyerahan diri nan sempurna.

Engkau rela tergantung, menderita, dan wafat

Demi harga sebuah KASIH.

 

Lalu….

Mengapa hati masih mengeras, kepala menengadah arogan

Jiwa mencari pembenaran, pikiran memburu pembelaan palsu?

Haruskah Kasih dan kebenaran-Mu disalibkan kembali

demi kesombongan, harga diri, dan pengejaran tak teratur?

Tak terdengarkah jerit kesakitan-Mu yang menyayat

Tetes demi tetes darah mengalir oleh kedegilan dan kemunafikan?

 

Wahai Tubuh yang harus menanggung dera aniaya

atas kejahatan yang tidak dilakukan-Nya.

Wahai Kepala penuh duri yang tertunduk lunglai

oleh dosa orang lain yang ditimpakan kepada-Nya.

Wahai jiwa yang menjerit penuh kesakitan oleh aniaya dan ditinggalkan

Ketika otoritas kuasa tanpa belaskasih

menjatuhkan keputusan dan hukuman atas diri orang yang tak bersalah!

 

Ketika hari-hari hidup kami tersesak derita

Berbagai persoalan berbaris susul-menyusul

Ketika kepolosan nurani dan nilai moral bagaikan kandas memudar

Jangan biarkan kami menyalibkan Kasih dan Kebenaran-Mu.

 

Bantu kami ya Tuhan, menegakkan Salib Kasih dan kebenaran-Mu.

Bantu kami tuk bertahan ketika segala usaha baik tampak sia-sia.

Kuatkan kami ketika harapan bagaikan sirna.

Ingatkan kami akan janji-Mu

Bahwa Engkau takkan pernah meninggalkan kami

Bahwa kasih-Mu abadi dan rahmat suci-Mu selalu menyertai kami

Bahwa Engkau sendiri hadir, berjalan, dan berjuang bersama kami

melewati jalan panjang

via dolorosa kehidupan kami.

 

 

Bunda…,

Pada wajahmu yang suci
Matamu nampak bening sejuk lembut
Hanya engkau sendirilah yang tahu
Pahit dan manisnya kehidupan di dunia.

Ketika Sabda Tuhan menghampirimu lewat sapaan malaikat,

Engkau menjawab, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Dan ketika kau pangku jasad kaku penuh luka Anakmu,

Lirih kaubisikkan,

“Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu lah yang terjadi.”

 

Bunda…,

Tiada henti engkau menyentuh hatiku

Lewat teladan cinta, pasrah, dan pengabdianmu yang total pada Tuhan

Engkaulah Ibu yang penuh IMAN,

Engkau Ibu yang sangat TABAH,

Engkau Ibu dengan KERENDAHAN HATI yang luar biasa.

 

Dalam IMAN…,

Engkau telah berani percaya dan pasrah diri,

kendati tidak melihat.

Engkau yakin bahwa Tuhan senantiasa berjalan bersamamu,

entah seterjal apapun jalan hidup ini.

Engkau merelakan dirimu seutuhnya bagi Tuhan,

betapapun berat dan sulitnya takdir yang telah digariskan.

Engkau telah melepaskan hak atas dirimu sendiri,

untuk sepenuhnya jadi milik Tuhan dan dikuasai oleh-Nya.

 

Engkau Ibu yang TABAH…,

Menerima semua beban, kesulitan, dan penderitaan

sebagai rahmat yang membuka kesempatan untuk lebih dekat pada Tuhan.

Melihat segala kekecewaan, kegetiran, dan hal-hal yang tidak dimengerti

sebagai jalan Tuhan untuk menyadarkan akan kelemahan dan ketidakberdayaan manusia,

sehingga lalu hanya bersandar pada Tuhan.

Menanggung semua peristiwa yang secara manusiawi memupus segala harapan,

yang secara manusiawi menutup segala kemungkinan untuk dapat bertahan hidup,

dengan tetap setia, tekun, dan penuh semangat

menjalankan tugas-tugas dalam keadaan apapun sejauh memungkinkan,

dengan segala resiko dan konsekuensi yang harus engkau tanggung.

 

Engkau Ibu yang sangat RENDAH HATI…,

Meskipun menjadi satu-satunya wanita pilihan Allah,

engkau sama sekali tidak membanggakan diri, apalagi bersikap jumawa.

Meskipun engkau terpilih sebagai Ibu Mesias,

engkau tetap ‘ndeso’, ‘udik‘, tak terkenal,

hanya sebagai ibu rumah tangga desa yang sederhana.

 

Dalam teladan iman dan penyerahan dirimu yang sempurna, ya Bunda,

ajari aku ‘tuk menyerukan fiat-mu, “Aku ini hamba Tuhan…”.

Dalam terang kehidupan dan ketabahan hatimu yang luar biasa, ya Bunda,

ajari aku untuk sanggup menanggung segala kesulitan dan beban hidup.

Dalam sikap pengabdian dan kerendahan hatimu, ya Bunda,

tuntun aku hidup sederhana dan tidak menyombongkan diri

dengan kuasa sementara yang ada padaku.

 

Ajari aku untuk setia sampai akhir hayat, ya Bunda

menghayati hidup sebagai hamba Tuhan,

menjadi partner Allah yang tidak mengecewakan,

untuk tetap dapat tabah, setia, dan tekun bertahan

dalam iman dan kerendahan hati, seperti engkau,

setiap kali aku mendoakan:

“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu….”