AWAL MULA YANG SANGAT SEDERHANA

Di setiap masa, Allah Yang Maha Rahim selalu membangkitkan pria dan wanita untuk membantu orang-orang kecil, lemah, miskin, menderita, dan terlantar. Demikian pula pada tahun 1980, ketika diangkat menjadi Pastor Paroki Stella Maris Pluit di Jakarta Utara, P. Ermano Sant’Andrea, SX telah diprihatinkan oleh situasi sebagian besar penduduk miskin di Jakarta Utara yang tidak punya rumah, keluarga maupun sanak-famili, hidup menggelandang dari hari ke hari tanpa jaminan dan kepastian hidup yang jelas. Dengan dukungan Umat dan Beberapa Tokoh Gereja Katolik dari Paroki Stella Maris, terutama dari Dewan Paroki, salah satunya Bapak Dago yang mengusulkan nama “Santa Anna” yang kemudian dipakai sebagai nama dari Panti Lansia sampai sekarang, diputuskan bahwa orang-orang miskin dan terlantar, terutama yang sudah berusia lanjut, sepantasnya diberi perhatian, penampungan, dan pemeliharaan yang layak.

Maka, di atas sebidang tanah seluas 900 m2 didirikanlah pondok-pondok kecil sederhana yang disebut “Rumah Mini”. Dalam waktu singkat segera terkumpul 22 orang lansia, yang dilengkapi dengan alat-alat rumah tangga yang sangat sederhana, disubsidi dengan bahan-bahan makanan setiap hari dan diberi uang saku Rp. 20 ribu rupiah sebulan, sesuai kemampuan keuangan yang diperoleh dari sumbangan Umat dan Donatur saat itu. Kelompok rumah-rumah mini ini lalu diberi nama “PANTI LANSIA SANTA ANNA”.

Ketika Kongregasi Suster-suster Cintakasih dari Maria Bunda Berbelaskasih (SCMM) membuka rumah karya di Teluk Gong pada tahun 1987, selain melaksanakan pelayanan pendidikan di Sekolah Stella Maris, penugasan utama yang diemban dari Paroki adalah menjadi Pengelola dan Pengurus Harian Panti Lansia Santa Anna. Sebagai Badan Pengurus: Pastor Sant’ Andrea (Ketua), Sr. Laurensia Sidabutar SCMM (Pelaksana Harian), Ibu Wiesnawaty (Bendahara), Bapak F.X.M. Taslim, Ibu Ratna, dan Bapak Budi Haryanto (Anggota Badan Pengurus).

PERKEMBANGAN SELANJUTNYA

Kehidupan Para Lansia di rumah-rumah mini berlangsung sampai tahun 1991. Kondisi Teluk Gong yang kerap dilanda banjir sungguh memberatkan penderitaan Para lansia dan pelayanan Para Suster. Maka, Rumah-rumah Mini sederhana berlantaikan tanah padat dibongkar dan diganti dengan sebuah rumah gedung permanen yang lebih besar dan lebih pantas. Jumlah penghuni berkembang dari 22 orang menjadi 30 orang.

Pada 02 Februari 1993, Stasi Paroki Pluit Teluk Gong resmi menjadi Paroki Mandiri dengan nama Paroki Santo Philipus Rasul. Namun demikian, Panti Lansia St. Anna masih merupakan milik Paroki Stella Maris Pluit. Bulan Januari-Februari-Maret 1996, terjadi banjir yang sangat besar melanda hampir seluruh bagian kota Jakarta. Sejak saat itu mulai dipikirkan untuk memindahkan Panti Lansia St. Anna. Satu keluarga Katolik yang dermawan, Bpk. Tommy Suryadi dan Ibu Dokter Soani M. Theresiawati (Ibu Dokter Tan Gek Soan), menghibahkan 2 bidang tanah seluas 5.700 m2 di Desa Tenjo, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Namun harapan ini tidak dapat segera terpenuhi, kendati telah mendapat restu dari Bapak Uskup Keuskupan Bogor, Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM. Gedung Panti di Teluk Gong masih tetap dipertahankan. Penanggulangan banjir diupayakan dengan membuat urukan dan meninggikan lantai dasar.

Pada tanggal 03 Mei 1999, Panti Lansia St. Anna diserahkan sepenuhnya kepada Kongregasi SCMM. Sejak saat itu, Para Suster SCMM lebih leluasa mengatur langkah dan usaha bagaimana menyelenggarakan suatu rumah yang sungguh nyaman dan terhindar dari banjir. Dengan penuh pertimbangan dan sesuai dengan kemampuan yang ada, bangunan Panti direnovasi secara besar-besaran, diperluas dan dibuat dua setengah lantai sehingga menampung lebih banyak lagi Para Lansia yang membutuhkan pemeliharaan dan tempat bernaung. Rumah baru ini selesai dibangun dan kemudian diresmikan oleh Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ, tanggal 09 Desember 2001. Dengan gedung baru, rumah Panti Lansia St. Anna dapat menampung 80 orang Lansia.

PANTI LANSIA SANTA ANNA YANG SEKARANG

Pada tanggal 15 April 2009, dengan bantuan dana dari Stichting Amelanderhof di Belanda dan sumbangan Para Donatur di Jakarta, diadakan perombakan menyeluruh atas gedung Panti, sehingga berdirilah sebuah gedung megah berlantai tiga dengan fasilitas yang jauh lebih baik dan dilengkapi dengan lift. Selama masa pembangunan gedung baru ini, Sr. Lidwina Kartini bersama segenap Staf Panti sungguh bekerja keras. Gedung Panti yang baru ini diresmikan oleh Bapak Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo pada tanggal 04 Mei 2011.

Para penghuni Panti berasal dari pelbagai latarbelakang suku, agama dan taraf kemampuan ekonomi yang berbeda-beda. Semua mendapatkan tempat, pemeliharaan dan pelayanan yang sama baiknya. Karena dihadapan Tuhan, semua insan sama berharga dan dikasihi olehNya. Dari waktu ke waktu, kenyamanan, kesejahteraan, kualitas pemeliharaan, akomodasi, konsumsi, sarana/prasarana, dan pemenuhan kebutuhan lainnya terus ditingkatkan. Para Orang Tua Lanjut Usia, semakin merasa kerasan dan dapat menikmati kebahagiaan di penghujung kehidupannya. Para Suster melayani, mendampingi dan menyiapkan mereka untuk penuh kepasrahan dan sukacita menuju kediaman yang abadi di surga.

PRINSIP PELAYANAN DI PANTI LANSIA SANTA ANNA

Dari latarbelakang sejarahnya bisa dilihat bahwa Panti Lansia St. Anna lahir dari suatu keprihatinan akan kebutuhan dari sesama yang kurang beruntung. Panti ini didirikan untuk tujuan pelayanan sosial kepada orang-orang berusia lanjut yang membutuhkan pemeliharaan dan tempat untuk bernaung.

Sejalan dengan Visi Kongregasi SCMM, membangun suatu dunia dan Gereja di mana umat manusianya, terutama orang-orang yang paling membutuhkan pertolongan, mengalami cinta dan belaskasih Allah yang membebaskan dan menyelamatkan lewat hidup, kehadiran dan pelayanan para Suster SCMM, dan sejalan dengan Misi SCMM, menyelenggarakan karya-karya pelayanan cintakasih yang membebaskan dan menyelamatkan sesuai kebutuhan-kebutuhan aktual Gereja dan masyarakat setempat, Para Suster SCMM menyelenggarakan Panti Lansia St. Anna dengan prinsip pelayanan “Cintakasih Tanpa Pamrih.”

Kendati belum semua penghuni Panti sanggup untuk berpartisipasi di dalam pemenuhan biaya hidup sehari-hari, dan masih banyak yang memberikan partisipasi dana seadanya, namun kesejahteraan Para Orang Tua tetap bisa terjamin sampai saat ini. Kemurahan hati para Donatur telah menjadi perpanjangan tangan dari Yang Ilahi bagi pemeliharaan umatNya. Bagi Tuhan, tiada yang mustahil. Allah yang kita yakini adalah Allah Immanuel; Dia Tuhan yang senantiasa menyertai umatNya, terutama mereka yang paling membutuhkan cinta dan belaskasihanNya.

Pada zaman ini dan di masa mendatang, kita boleh percaya bahwa akan selalu ada banyak orang yang masih peduli dan mau berbelarasa suka-duka dengan sesamanya. Mereka akan menjadi utusan-utusan dari Yang Ilahi dalam memberikan bala bantuan bagi kelangsungan hidup di Panti ini.

PENGEMBANGAN PANTI LANSIA SANTA ANNA KE GRISENDA – PIK – JAKARTA UTARA

Dari waktu ke waktu, minat dan permintaan untuk masuk ke Panti terus meningkat. Untuk menanggapi perkembangan zaman dan kebutuhan pelayanan kepada Lansia, Pemimpin Provinsi SCMM Indonesia Periode 2014-2018, atas persetujuan Dewannya, merelakan Gedung Biara SCMM St. Agnes di Perumahan Taman Grisenda Blok B1/65 Kapuk, yang cukup besar, untuk dirombak menjadi perluasan Panti Lansia Santa Anna. Sesuai dengan kondisi lingkungan penduduk di PIK, Panti di Grisenda ini difasilitasi untuk melayani Lansia golongan middle class. Perluasan Panti Lansia Santa Anna di Grisenda diselenggarakan secara resmi dengan restu dari Bapak Uskup Agung KAJ, dan diberkati ulang oleh Pastor Paroki Regina Caeli, RD. Silvester Hari Pamungkas, pada 12 Mei 2018.

Demikianlah sampai pada tahun 2024, Panti Lansia Santa Anna berada di dua (2) tempat, yakni di Teluk Gong (untuk Lansia Laki-laki dan Perempuan), dan di Grisenda (khusus hanya untuk Lansia Perempuan), dan mulai 24 Maret 2016 diselenggarakan di bawah naungan YAYASAN SANTA ANNA.

RENCANA PENGEMBANGAN KE KEC. KEMANG – KAB. BOGOR

Seturut dorongan Roh Kudus dan kehendak Allah, untuk ke depannya, Para Suster SCMM selalu terbuka untuk mempertimbangkan pengembangan pelayanan kasih kepada Para Lansia dimanapun dibutuhkan.

Di bulan Juli 2023 yang lalu, ketika seorang Dermawan yang baik hati, Bapak Yoseph (Latif) Muljadi, menawarkan hibah tanah seluas 3.216 m2 di Jl. Kampung Kemang Gudang, RT 003/RW 009, Desa Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16311 untuk membuat Panti Lansia, Ketua Yayasan Santa Anna (YSA), Sr. Petronella Lie SCMM, bersama dengan Pengurus YSA dan Staf PSA, menyambutnya dengan gembira. Kendati berbagai pengurusan administrasi, yang mesti melalui berbagai jalur birokrasi sipil, tidaklah mudah dan murah, namun itu tidak menyurutkan niat baik dalam mengupayakan terwujudnya pelayanan kasih bagi sesama.

Semoga segala niat baik, upaya, dan jerih payah yang sudah dan masih perlu ditempuh ke depannya kelak dapat membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. “Tidak apa”, kata Ketua YSA, “Biar Tuhan pakai kami selama masih kuat, supaya hidup bisa jadi berkat bagi sesama yang membutuhkan.”

Apakah pembangunan Panti Lansia di Kemang ini akan terwujud? Insya’alah, bila Tuhan merestui maka Dia pasti akan menggerakkan hati banyak orang dan pihak-pihak yang terkait untuk membantu dan mendukung. “Biarlah semua terjadi seturut kehendak Tuhan”, tegas Ketua YSA. Namun bagaimanapun, pembangunan ini hanya dapat dilakukan dengan bantuan dari Kongregasi SCMM, yaitu lewat dukungan Dewan Pimpinan Umum (DPU) SCMM di Belanda. Bila bantuan itu tidak ada, maka YSA dan PSA tidak akan sanggup hanya dengan kemampuan finansialnya. Bila Kongregasi SCMM tidak sanggup melakukan pembangunan Panti Lansia, maka lahan hibah ini tentu tidak  akan terus dipertahankan. Demi terwujudnya niat hati yang tulus dan mulia dari Penghibahnya, maka tanah ini akan dialihkan ke Kongregasi lain yang akan sanggup mewujudkan pembangunan tersebut.