Rekoleksi Mini Adven 2-3-4 PSA 2024

Panti Lansia Santa Anna (PSA), mengadakan Rekoleksi Mini lagi pada hari Rabu 18 Desember 2024. Karena kesibukan dan keterbatasan waktu, maka Topik-topik Pendalaman Adven 2, 3, dan 4 digabungkan dalam satu kali pertemuan itu.

Narasumber, Ketua Yayasan Santa Anna, Sr. Petronella Lie SCMM, setia menggunakan materi yang sudah dikeluarkan oleh KAJ, dengan membuat beberapa modifikasi agar lebih sesuai dengan Para Lansia dan kondisi di Panti Lansia Santa Anna.

Tema KEPEDULIAN LEBIH PADA YANG LEMAH DAN MISKIN, dengan Sub Tema Adven 2 “Kesaksian Kristus”, Adven 3 “Pentingnya Solidaritas”, dan Adven 4 “Doa & Tindakan” digabungkannya sebagai berikut, dengan kegiatan-kegiatan yang menarik, praktis, sederhana, dan melibatkan semua Oma, Opa, Para Suster, Pegawai, dan Perawat Panti Lansia Santa Anna.

 

Pertemuan dibuka dengan lagu “ALLAH ITU KASIH” (Joy Tobing)

 

Lalu dilanjutkan dengan DOA PEMBUKA:

Bapa Yang Maha Kasih, kami bersyukur karena penyertaan-Mu, sehingga kami dapat berkumpul kembali dalam pertemuan hari ini.

Saat ini kami hendak mendalami Tema Adven Minggu Kedua dan Ketiga yang kami gabungkan, karena kami hendak belajar bersama tentang KESAKSIAN KRISTUS dan PENTINGNYA SOLIDARITAS.

Beri kami Roh Kudus-Mu:

  • Agar kami mampu untuk mengerti bahwa setiap orang dari kami dipanggil menjadi saksi Kristus, dan harus senantiasa berupaya menghadirkan sifat Kristus, yakni dalam tindakan dan tingkah laku yang tulus, penuh kasih, kebenaran, dan keadilan bagi sesama, terutama mereka yg lemah dan miskin.
  • Agar kami mampu utk menjaga solidaritas & tanggungjawab bersama di Panti ini.
  • Agar kami mampu utk saling dukung, menghormati, dan mengasihi satu sama lain.

Berilah kami kesabaran dan pengertian agar dpt mengatasi setiap tantangan dan rintangan yg mungkin kami hadapi. Jadikan Panti ini sebagai tempat bertumbuh dlm iman, kasih, dan kebersamaan.

Doa ini kami mohon kepada-Mu melalui Putera-Mu Yesus Kristus, Tuhan dan pengantara kami, yang bertahta bersama Engkau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

 

Berikut ini adalah paparan materi yang disampaikan oleh Sr. Petro sebagai pendalaman iman dan Rekoleksi Mini Adven II, III, dan IV PSA Teluk Gong & Grisenda:

 

I. PENGANTAR

Para Suster, Oma-Opa, Adik-adik Pegawai dan Perawat Yang Terkasih,

Dalam Kitab Suci banyak dikisahkan kehidupan Yesus Kristus yang senantiasa menunjukkan perilaku kasih, kerendahan hati, dan kebaikan pada sesama dengan tidak memandang status sosial maupun status ekonomi. Tidak hanya tindakan, Yesus Kristus juga memberi teladan bagaimana bertutur kata dengan penuh kejujuran, lembut, tegas, dan terbuka.

Lewat sikap, ajaran, dan seluruh kehidupanNya, Yesus menunjukkan betapa Dia solider dengan orang-orang yang ada di sekitarNya dan yang Dia jumpai dalam perjalanan hidupNya.

Salah satu teks Kitab Suci ttg Solidaritas adalah “Perumpamaan org Samaria yg baik hati.

Mari kita dengarkan kisah dari Perumpamaan itu:

Perumpamaan orang Samaria yang baik hati menunjukkan bahwa kasih tidak terbatas pada golongan, suku, atau ras tertentu. Dalam kisah ini, orang yang menderita dan dirampok habis-habisan itu adalah orang Yahudi. Orang Yahudi kurang bergaul akrab dengan orang Samaria. Namun, melihat penderitaan si orang Yahudi yang babak belur dan ditinggal setengah mati, orang Samaria itu iba dan bersedia untuk menolongnya secara tuntas. Sikap orang Samaria itu menunjukkan solidaritas yang tinggi terhadap kebutuhan, situasi, dan kondisi orang lain. Orang Samaria memberi contoh bagaimana memperlakukan orang lain sebagai sesama. Melalui perumpamaan tersebut, Yesus juga menekankan bahwa solidaritas atau tindakan kasih yang tulus kepada sesama mengarahkan kita pada keselamatan atau kehidupan kekal.

 

Para Suster, Oma Opa, Adek-adek Pegawai & Perawat Ytk,

Sebagai murid Yesus Kristus tentunya kita diajak untuk senantiasa menjadi Saksi Kristus melalui solidaritas, yaitu tindakan dan perbuatan kita yang baik bagi sesama, entah itu melalui tutur kata, melalui doa dan juga melalui pelayanan secara nyata di Panti ini dan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita.

 

II. AKTIVITAS 1: MENYUSUN KATA-KATA TEKS KITAB SUCI

  1. Peserta dibagi menjadi 4 Kelompok.
  2. Masing-masing Kelompok diberikan kertas-kertas yang berisikan potongan kata-kata Teks Kitab Suci. Setiap Kelompok mendapatkan 1 set susunan Teks.
  3. Tugas Kelompok adalah menyusun potongan kata-kata itu menjadi 1 ayat Teks Kitab Suci yang lengkap.
  4. Kelompok yang terlebih dahulu berhasil menyusunnya merupakan Pemenangnya.

TANYA-JAWAB untuk pendalaman Aktivitas 1:

  1. Apakah kegiatan ini sulit?
  2. Bagaimana Kelompok pada akhirnya dapat membentuk kalimat Teks Kitab Suci yang lengkap?
  3. Apa yang dapat dipahami oleh Kelompok tentang Teks Kitab Suci tersebut?

MAKNA AKTIVITAS:

Melalui kegiatan ini, kita hendak diingatkan kembali tentang beberapa kisah belaskasih Yesus kepada manusia yang menderita. Dimanapun Yesus berada, dia selalu peka, penuh perhatian, berbelaskasih, dan memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

 

II. AKTIVITAS 2: DRAMA TENTANG SOLIDARITAS

  1. Peserta dibagi menjadi 3 Kelompok.
  2. Masing-masing Kelompok memerankan suatu Drama Mini yang menunjukkan tentang SIKAP SOLIDARITAS.
  3. Durasi Drama maksimal 10 menit.
  4. Pada akhir Drama:
  5. Kelompok menjelaskan tentang Drama yang diperankannya.
  6. Kemudian Kelompok dapat menyanyikan sebuah Lagu yang mencerminkan tentang SOLIDARITAS sebagai penutup.

 

III. PERTANYAAN REFLEKSI & SHARING UNTUK MENGGIRING KE TOPIK ADVEN 4 “DOA & TINDAKAN”

  1. Apa hal berguna bagi diriku yang dapat Saya petik dari semua kegiatan pada hari ini?
  2. Apa yang dapat Saya lakukan secara konkrit dalam kehidupan sehari-hari agar Saya dapat menjadi orang yang lebih baik, lebih berbahagia, lebih solider, lebih peduli dengan sesamaku yang sedang susah, sakit, menderita, dan membutuhkan bantuan, terutama di Panti Lansia Santa Anna ini dan yang berada di sekitar lingkunganku, para Tetangga, Pemulung, Tukang Sampah, Tukang Beca, dll?

 

IV. DOA PENUTUP

Pada akhir pertemuan, Sr. Petro mengajak hadirin untuk bersama mendaraskan Doa Penutup:

“Allah Bapa yang Maha baik, Yesus Kristus telah mengajarkan kepada para murid-Nya untuk selalu bersyukur dan memiliki kepedulian kepada sesama.

Kami bersyukur untuk anugerah kehidupan yang memberi kami kesempatan untuk dapat melakukan hal-hal yang baik dan bernilai, agar hidup kami berguna dan menjadi berkat bagi orang lain.

Semoga rasa syukur ini dapat kami wujud-nyatakan dalam kehidupan kami bersama di Panti Lansia Santa Anna, dengan membangun SOLIDARITAS, lewat kepedulian secara nyata dan saling membantu, lebih-lebih kepada mereka yang lebih lemah, miskin, sakit, menderita, dan membutuhkan bantuan.

Bapa, semoga solidaritas dan kepedulian kami kepada sesama Kau terima sebagai persembahan kami untuk kemuliaan nama-Mu.

Doa ini kami sampaikan dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kini dan sepanjang masa. Amin.”

 

Pertemuan diakhiri dengan Lagu “Jadikan Aku Saksi-Mu”.

 

Galeri Foto-foto & Video dari Kegiatan REKOLEKSI MINI Adven 1, 2, 3, dan 4 PSA pada hari Rabu 18 Desember 2024: 

  • Sayangnya, 2 Video Drama ttg “Aksi Bully Remaja di Sekolah” dan “Hura-hura Anak Zaman Now” tidak bisa ter-upload.
  • Namun yang penting adalah bahwa sambil mendapatkan siraman rohani sebagai persiapan menyambut Natal, lewat kegiatan-kegiatan ini, Para Warga Panti Lansia Santa Anna mendapatkan masukan-masukan bernas yang berguna bagi kehidupan sehari-hari di Panti, sambil bersenang-senang dan menikmati kebersamaan dengan kompak dan gembira.

 

Makan Es Krim sambil rembukan tentang Drama SOLIDARITAS yang mau diperankan 😋😜🤪

 

REKOLEKSI MINI ADVEN 1 PSA 2024

Panti Lansia Santa Anna (PSA), dalam menyongsong NATAL 2024, kembali mengadakan Kegiatan-kegiatan yang menarik untuk mempersiapkan warganya: Para Oma dan Opa, Para Pegawai dan Perawat, untuk menyambut Kelahiran Sang Juru Selamat Dunia.

Ketua Yayasan Santa Anna, Sr. Petronella Lie SCMM, memimpin langsung berbagai kegiatan, bersama dengan Rekan-rekan Kerja Para Suster SCMM lainnya dari Pengurus Yayasan Santa Anna (YSA) dan Staf PSA, yaitu: Sr. Renelda Nahas, Sr. Renata Barasa, Sr. Stefani Murwani, Sr. Erlis Laia, Sr. Katarina Waruwu, dan dilengkapi juga dengan kehadiran Sr. Henrika Sri Woro Prihati. Para Lansia, Pegawai dan Perawat semuanya, juga yang dari PSA Grisenda, dilibatkan dan dipusatkan kegiatannya ke PSA Teluk Gong.

Sebagai warga Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Sr. Petro mengambil Tema dan Topik-topik Pendalaman Adven yang sudah ditentukan oleh KAJ, yaitu “KEPEDULIAN LEBIH PADA YANG LEMAH DAN MISKIN”, dengan Topik Adven I: “KEADILAN SOSIAL”.

Pendalaman-pendalaman Adven PSA dikemas berupa Rekoleksi-rekoleksi Mini yang kreatif dan interaktif.

Sr. Petro mengawali Rekoleksi Mini Adven I dengan Lagu Pembuka: “Cintailah Sesamamu”.

Sesudahnya, Oma-Opa dan para hadirin diajak untuk berdoa bersama:

“Tuhan Allah Yang Maha Kuasa, Engkau adalah Allah yang Maha Baik dan penuh kasih.

Pada saat ini kami berkumpul sebagai satu Keluarga Besar Panti Lansia Santa Anna.

Kami hendak bersyukur, memuji, dan menyembah-Mu yang selalu mengasihi kami.

Kami mau belajar dari-Mu, yang telah lebih dulu solider, dengan mengutus Putra-Mu menjadi manusia untuk menyelamatkan kami.

Ajarkan kami untuk mampu meneladan cinta dan belaskasih serta keadilan-Mu, terutama kepada sesama kami, Oma-Opa, dan juga kepada orang-orang di sekitar kami yang lebih lemah, miskin, sakit, dan membutuhkan perhatian.

Semoga pendalaman Adven Pertama ini menginspirasi kami untuk menghayati dan berbagi cintakasih dalam hidup sehari-hari.

Bunda Maria Yang Berbelaskasih, Doakanlah kami. Santa Anna, Doakanlah kami. Amin!”

 

Berikut ini adalah paparan materi yang disampaikan oleh Sr. Petro sebagai pendalaman iman dan Rekoleksi Mini Adven I PSA Teluk Gong & Grisenda:

 

I. PENGANTAR

Oma-Opa, Adik2 Pegawai & Perawat Ytk, adakah yang tau, apa sih arti Masa Adven itu?

Masa Adven adalah masa penantian kelahiran Yesus, Sang Almasih.

Selama masa penantian itu, Gereja mengajak kita untuk melakukan persiapan-persiapan agar kita layak untuk menyambut Kelahiran Yesus yang datang ke dunia dan lahir sebagai  manusia.

 

Apakah Oma Opa masih ingat cerita tentang seorang Bapak Tua yang tidak  mau percaya tentang Allah yang menjadi Manusia? Bpk. Tua ini selalu geli bila melihat orang-orang yang sibuk membuat persiapan dan kemudian pergi ke Gereja di hari Natal. Bagi Bpk. Tua ini, kok aneh, apaan sih, kok ada-ada saja cerita tentang Allah yang menjelma menjadi manusia.

 

SEBUAH KISAH DI MALAM NATAL:

Adalah seorang Bapak Tua yang baik hati dan tulus, setia pada keluarganya dan bersih kelakukannya. Sayangnya, dia tidak percaya tentang kisah Kelahiran Yesus, Allah yang menjadi manusia, sebagaimana tertulis dalam Alkitab dan yang diceritakan setiap kali perayaan Natal. Dia menganggap Natal hanya sebagai takhyul belaka.

“Saya benar-benar minta maaf jika Saya membuat kamu sedih,” kata Bapak itu kepada istrinya yang rajin pergi ke Gereja. “Tapi Saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi Saya ”

Pada Malam Natal, Istri – Anak – dan Cucu-cucunya pergi menghadiri Perayaan Natal di Gereja. Si Bpk. Tua memilih untuk tinggal di rumah saja. “Saya tidak mau menjadi munafik. Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang,” tutur Bapak itu kepada istrinya.

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia memandang keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju yang berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya. Suhu dingin di luar mendorongnya untuk sejenak menikmati hangatnya perapian. Ia duduk sambil membaca koran.

Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan dengan suara ketukan dari jendela depan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir pasti ada orang yang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Namun betapa terkejutnya Bpk itu ketika ia beranjak untuk mengecek suara itu ke pintu masuk. Ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di atas salju dingin. Mereka terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

“Saya tidak dapat membiarkan mahluk kecil itu kedinginan di sini,” pikir si Bpk. “Tapi bagaimana Saya bisa menolong mereka?” ucapnya.

Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni Cucu-cucunya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera ia pun mengambil jaketnya dan pergi menuju ke kandang itu. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tetapi, burung-burung itu tidak masuk ke dalam.

“Makanan pasti bisa menuntun mereka masuk,” pikir si Bpk. Ia pun berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Bpk itu mencoba usaha lain lagi. Dia mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi burung-burung itu justru berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.

“Mereka menganggap Saya sebagai mahluk yang aneh dan menakutkan”, kata Bpk itu pada dirinya sendiri, “dan Saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai Saya. Kalau saja Saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin Saya dapat membawa mereka ke tempat yang aman,” pikir Bpk itu.

Pada saat itu juga, lonceng Gereja berbunyi. Bpk Tua itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, “Sekarang Saya mengerti,” bisiknya dengan terisak. “Sekarang Saya mengerti mengapa ENGKAU mau menjadi manusia.”

 

Para Suster, Oma, Adik-adik Pegawai & Perawat Ytk,

Dengan penjelmaan Yesus menjadi manusia melalui peristiwa NATAL, Allah membuktikan solidaritas-Nya kepada kita.

Ia mau menjadi SAMA dengan kita, manusia.

Ia mau senasib, seperasaan, sepenanggungan dan menderita bersama dengan kita.

Dengan menjadi manusia, Ia mau agar kita dapat mengerti Dia, mengerti akan warta gembira keselamatan yang Ia sampaikan kepada kita.

Tema umum Masa Adven 2024 ini adalah KEPEDULIAN LEBIH pada yang LEMAH & MISKIN, baik secara jasmani maupun secara Rohani.

Kepedulian pada orang kecil, lemah, miskin, dan tertindas adalah panggilan dari setiap orang beriman, entah apapun agamanya. Agama mengajarkan pada kita agar kita PEDULI dengan orang yang menderita yang ada di sekitar kita, jangan kita cuek, mengabaikan, apalagi bersikap sombong kepada mereka.

Kita harus menaruh perhatian, berbelaskasih, dan sedapat mungkin mengupayakan bantuan, entah besar atau kecil, untuk meringankan kesusahan dan penderitaan mereka.

Gereja Katolik mengajarkan, bahwa keadilan sosial harus diwujudkan dengan membantu sesama yang menderita. Yesus Sang Juruselamat adalah TELADAN UTAMA bagi kita semua untuk mengungkapkan cinta dan keadilan Allah dalam berbelaskasih bagi sesama.

 

II. AKTIVITAS: BERMAIN PERAN & MENEBAK

  1. Oma Opa, Pegawai, Perawat, Para Suster dibagi dalam 3 Kelompok.
  2. Wakil dari masing-masing Kelompok mengambil 1 Kertas, membawa ke Kelompoknya untuk kemudian membahasnya secara rahasia bagaimana mereka akan meragakan/memerankan kisah yang tertulis di Kertas itu. Waktu 10 menit.
  3. Sesudahnya, masing-masing Kelompok secara bergiliran akan menampilkannya semacam “mini drama bisu”, artinya diperankan tanpa suara, hanya dengan gerak-gerik saja; kecuali pada kata-kata/bagian-bagian tertentu boleh mengeluarkan suara. Bila Kelompok terlalu besar, maka ditentukan beberapa orang saja yang menjadi perwakilan untuk maju ke depan dalam peragaan itu. Durasi drama paling lama 10 menit per-Kelompok.
  4. Ketika 1 Kelompok maju, maka tugas hadirin yang lain adalah menebak: “Kisah apakah yang diperankan itu?” Bagi yang sudah bisa menebak, dapat segera mengungkapkannya saat peragaan selesai.

MAKNA AKTIVITAS:

Melalui kegiatan ini, kita hendak diingatkan kembali tentang beberapa kisah belaskasih Yesus kepada manusia yang menderita. Dimanapun Yesus berada, dia selalu peka, penuh perhatian, berbelaskasih, dan memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

 

III. BACAAN & MAKNA KITAB SUCI

 

MAKNA KITAB SUCI

Peristiwa Yesus membuat mukjizat dengan membangkitkan anak muda di Nain menunjukkan perhatian dan kepedulian Yesus pada kesusahan orang yang sedang berduka. Anak muda yang dibangkitkan itu adalah anak laki-laki dari seorang Janda, yang sudah ditinggal oleh suaminya yang meninggal. Para Janda memiliki posisi yang rentan karena tidak memiliki perlindungan dari suaminya, dibatasi pergerakannya, termasuk untuk pergi ke Bait Allah. Pembatasan gerak ini membuat Para Janda sulit untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka.

Kematian anak laki-lakinya membuat keadaan Janda ini semakin terpuruk, betul-betul kehilangan pegangan yang bisa diandalkan dalam hidupnya. Di tengah-tengah keterpurukannya itulah Yesus hadir memberikan penghiburan dan harapan, dengan membangkitkan anak laki-laki itu.

Kejadian ini menunjukkan betapa Yesus memiliki kepekaan hati untuk melihat kesulitan orang lain. Kepekaan hati-Nya menggerakkan Yesus untuk segera menolong sesama tanpa menunda waktu. Memberi pertolongan merupakan perwujudan cinta secara nyata bagi sesama.

Demikian Yesus memberikan pengajaran dan teladan yang baik kepada Para Murid-Nya, dan juga kepada kita semua untuk berani menolong dan terlibat dalam mengatasi kesulitan dan penderitaan sesama, terutama orang yang berada di sekitar kita.

 

IV. PERTANYAAN REFLEKSI

  1. Apakah Saya memiliki rasa peduli kepada sesama yang lebih lemah, sakit, sedang berkesusahan, dan membutuhkan bantuan?
  2. Apa saja yang pernah Saya lakukan untuk menolong sesamaku yang sedang sakit, membutuhkan perhatian, bantuan, penghiburan?

 

Ketika Sr. Petro memberikan kesempatan kepada Oma Opa untuk membagikan hasil refleksinya, ternyata cukup banyak Oma Opa yang mampu untuk mengungkapkan berbagai perbuatan baik yang nyata, yang mereka lakukan kepada sesama Oma Opa di Panti Lansia Santa Anna.

 

Pada akhir pertemuan, Sr. Petro mengajak hadirin untuk bersama mendaraskan Doa Penutup:

“Bapa Yang Mahabaik kami mau bersyukur untuk pertemuan dan pendalaman iman di pekan ADVEN Pertama ini. Semoga dengan rahmat-Mu kami semakin menyadari betapa baiknya Engkau.

Restui kami, agar kami semakin menjadi seperti-Mu, peduli kepada sesama kami yang lemah, miskin, sakit, berkesusahan, dan membutuhkan bantuan.

Doa ini kami sampaikan dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kini dan sepanjang masa. Amin.”

 

Pertemuan diakhiri dengan Lagu “UJILAH AKU, TUHAN”

KUNJUNGAN DARI KELOMPOK “DOROTHEA”

Panti Lansia Santa Anna Grisenda digembirakan dengan kunjungan dari Kelompok “Dorothea”, yaitu Kelompok Ibu-ibu yang merangkai bunga di Gereja St. Thomas Rasul, Bojong Indah, Jakarta Barat.

Walaupun tidak semua anggota Kelompok bisa datang, namun itu tidak menyurutkan semangat Ibu Nancy (Ketua “Dorothea”), Ibu Elvi, Ibu Grace, Ibu Kumala, dan Ibu Aswin untuk menepati janjinya datang berkunjung pada hari Kamis, 13 Juni 2024.

Oma-oma bersama dengan Para Pegawai, Perawat, dan Sr. Petro menyambut Para Tamu dengan Lagu SELAMAT DATANG yang diiringi dengan musik Kolintang. Acara diisi dengan Makan Siang Bersama, Atraksi Tarian dari Para Pegawai & Perawat PSA Grisenda, kemudian dilanjutkan dengan performance dari Ibu Nancy, yang mempraktekkan di depan Oma-oma, Para Pegawai dan Perawat Panti bagaimana caranya merangkai bunga. Kunjungan ini sungguh mendapatkan maknanya yang unik dan Istimewa dengan peragaan merangkai bunga, dimana rangkaian bunga indah ini kemudian dipasang di depan Altar dan dekat patung Bunda Maria, dan Yesus.

Semuanya terpesona karena selain mendapatkan kunjungan, makan siang yang hangat dan penuh persaudaraan, bingkisan-bingkisan kasih, juga diberi ilmu dan ketrampilan merangkai bunga. Ibu Nancy berpesan, “Bunga tidak boleh lebih tinggi dari Altar, dan harus memakai bunga/tanaman hidup.”

Misa di Kapel PSA Grisenda, yang setiap Kamis sore jam 17.00, dilayani oleh Imam dari Paroki Regina Caeli, pada Hari Kamis 13 Juni menjadi sangat Istimewa dengan kehadiran Rangkaian Bunga yang indah di depan Altar Tuhan.

TERIMAKASIH kepada Ibu Nancy, Ibu Elvi, Ibu Grace, Ibu Kumala, dan Ibu Aswin, serta Kelompok “Dorothea” yang telah berkunjung ke Panti Lansia Santa Anna. Atas perhatian dan kasih dari Ibu-ibu semua semoga Tuhan menganugerahkan berkat dan rahmat berlimpah bagi Ibu-ibu dan Keluarga serta bagi Kelompok “Dorothea” agar semakin lebih semangat lagi dalam menebar kasih dan pelayanan kepada sesama.

 

WILL YOU HELP US?

“Blessed are the merciful, for they will obtain mercy.” (Matthew 5: 7)

“Panti Lansia Santa Anna” / PSA (Santa Anna Elderly House / SAEH) is organized by the SCMM Congregation under the management of “Yayasan Santa Anna” / YSA (Santa Anna Foundation / SAF) to provide humanitarian assistance and loving services to fellow humans, namely the elderly, both male and female: Oma and Opa (Grandmothers and Grandfathers).

Until now, SAF manages SAEH which is located in 2 places in North Jakarta: in Teluk Gong (Elderly Home for Oma and Opa) and in Grisenda (Elderly Home only for Oma).

According to the guidance of the Holy Spirit and God’s will, in the future, the SCMM Sisters will always be open to continuously making efforts to improve and develop their loving service to the Elderly wherever needed.

Some time ago, SAF received a land grant of 3,216 m2 in Kemang Sub District, Bogor Regency, West of Java, Indonesia (about 1.5 hours by car from Jakarta). On this land, it is planned to build a Home for the Elderly which can accommodate around 100 elderly people, 30 Employees/Staff members, and 4 Sisters (SCMM Sisters) who work in the Elderly house. This home will be social in nature, meaning that the elderly (Oma and Opa) will always be welcomed and accepted even if they are unable to pay, or can only afford what is needed for their accommodation.

We want to knock on the hearts of Donors and Benefactors to extend HELPS for the planning of DEVELOPMENT OF THIS ELDERLY HOME.

HELPS NEEDED:

These can be in the form of money/funds, building materials, or help in the building project either in whole or in parts.

FOR FUNDS/HELPS THAT WILL BE PROVIDED, YOU CAN CONTACT:

  1. +62 813 9780 1150 (Sr. Petronella Lie, SCMM: Chairman of Santa Anna Foundation)
  2. +62 812 8233 2226 (Sr. Renelda Nahas, SCMM: Treasurer of Santa Anna Foundation)

 

Meanwhile, for daily routine needs at Santa Anna Teluk Gong & Grisenda Elderly Houses, Donors/Benefactors can donate as follows:

  1. Financial Assistance/Donors/Benefactors for the Elderly (Oma and Opa) who are unable/less able to pay for their accommodation.
  2. Freezer for Kitchen
  3. Monthly PAYMENT of Electricity, Water/PAM, and Telkom BILLS.
  4. 4 Units of AC (Air Conditioning) for Chapel, and 1 Unit AC for the Office.
  5. Tools & Sticks to Check Blood Sugar, Cholesterol, Uric Acid, Tensimeter, Scales.
  6. Maintenance & Building Renovation Assistance
  7. Daily Foods for eating, drinking, fruit, healthy snacks.
  8. Uniforms for the Elderly (Oma and Opa) and for the Employees: T-shirts, Batik, Vests, etc.
  9. PC/Computer for Receptionist.
  10. Projector & the Hanging Projector Screen 3 m x 2 m for Events & Activities.
  11. Equipment that is frequently damaged/frequently needs to be replaced:
    • Automatic Washing Machine, Kitchen Refrigerator, Dispenser
    • Tools for Cooking, Home Cleaning
    • 2 Burner Gas Stove
    • Sound System, Speakers, Microphone
  1. Fans for Oma’s-Opa’s Rooms, Dining Rooms, Sitting Rooms.
  2. Water Distiller for Drinking Water, Water Heater, Massage Chair.
  3. Strengthening the Internet Network in Teluk Gong SAEH; internet and cellphone signal is weak and often run ups and downs.

= Thank you, and God bless =

 

PICTURES GALERY (April 2024; Made by TONI TEGUH)

 

MAUKAH ANDA MEMBANTU KAMI?

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5: 7)

Panti Lansia Santa Anna (PSA) diselenggarakan oleh Kongregasi SCMM di bawah pengelolaan Yayasan Santa Anna (YSA) untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan pelayanan kasih  kepada sesama manusia yaitu para Lansia, baik Oma maupun Opa.

Sampai saat ini, Yayasan Santa Anna mengelola Panti Lansia Santa Anna yang terdapat di 2 tempat di Jakarta Utara, yaitu di Teluk Gong (Panti Lansia untuk Oma dan Opa) dan di Grisenda (Panti Lansia khusus untuk Oma-oma). Seturut dorongan Roh Kudus dan kehendak Allah, untuk ke depannya, Para Suster SCMM selalu terbuka untuk terus-menerus mengupayakan peningkatan dan pengembangan pelayanan kasih kepada Para Lansia dimanapun dibutuhkan.

Beberapa waktu yang lalu, Yayasan Santa Anna mendapatkan hibah tanah seluas 3.216 m2 di Kec. Kemang, Kab. Bogor (sekitar 1,5 jam dari Jakarta). Di atas tanah ini direncanakan hendak dibangun Gedung Panti Lansia yang dapat mengakomodir sekitar 100 orang Oma-Opa, 30 orang Staf Pegawai, dan 4 orang Suster Pengurus Panti. Panti ini nantinya akan bersifat sosial, artinya Para Lansia (Oma dan Opa) akan selalu welcome dan diterima kendati tidak mampu membayar, ataupun hanya mampu membayar seadanya untuk akomodasinya.

Kami hendak mengetuk hati Para Donatur untuk mengulurkan BANTUAN bagi perencanaan PEMBANGUNAN PANTI LANSIA di Kec. Kemang – Kab. Bogor ini.

BANTUAN YANG DIBUTUHKAN:

Bisa berupa Uang/Dana, Material Bangunan, ataupun membantu membangun Gedung Panti ini, entah secara keseluruhan ataupun perbagian.

UNTUK BANTUAN YANG AKAN DIBERIKAN DAPAT MENGHUBUNGI:

  1. 0813 9780 1150 (Sr. Petronella Lie SCMM: Ketua Yayasan Santa Anna)
  2. 0812 8233 2226 (Sr. Renelda Nahas SCMM: Bendahara YSA & PH PSA)

 

Sedangkan untuk Kebutuhan Rutin sehari-hari di Panti Lansia Santa Anna Teluk Gong & Grisenda, Para Donatur dapat menyumbangkan sebagai berikut:

  1. Bansos/Donatur/Penyumbang untuk Oma-Opa yang tidak mampu / kurang mampu membayar Uang Asramanya di Panti.
  2. Freezer / Peti Es (karena Freezer Panti sudah rusak)
  3. Bantuan Pelunasan Tagihan-tagihan LISTRIK yang sangat tinggi, PAM, dan TELKOM setiap bulan.
  4. Penggantian 4 unit AC untuk Kapel, dan 1 unit AC untuk Ruang Kantor.
  5. Alat & Stik Cek Gula Darah, Kolesterol, Asam Urat, Tensimeter, Timbangan
  6. Bantuan Rehab & Pemeliharaan Gedung Panti.
  7. Kebutuhan Pangan Sehari-hari: makan, minum, snack sehat, buah-buahan, sayur-mayur, bahan jus sehat, beras merah, gula tebu/gula batu, dll.
  8. Pakaian Seragam untuk Oma-Opa & Pegawai: Kaos, Batik, Rompi, dll.
  9. PC/Komputer untuk di Resepsionis
  10. Proyektor & Layar Lebar (T 2 meter x L 3 meter) untuk tayangan proyektor bila ada Acara-acara & Kegiatan di Panti
  11. Peralatan yang kerap rusak/sering harus diganti:
    • Sound System, Speaker, Microphone
    • Mesin Cuci Matic, Kulkas Dapur, Dispenser
    • Alat-alat untuk Memasak, Kebersihan Rumah
    • Kompor Gas, Rice Cooker
  12. Kipas Angin untuk Kamar-kamar, Ruang Makan, Ruang Duduk-duduk Oma-Opa.
  13. Penyuling Air untuk air minum, Water Heater, Kursi Pijat
  14. Penguatan Jaringan Internet di PSA Teluk Gong; Indihome tdk berfungsi, begitu juga signal HP lemah dan sering ups-downs.

= Terimakasih, Tuhan memberkati =

GALERI GAMBAR (Per-April 2024; dibuat oleh TONI TEGUH)

REKOLEKSI APP 5 PSA

Panti Lansia Santa Anna (PSA) menjalankan Rekoleksi Mini Pendalaman Tema APP 5 pada hari Jumat 22 Maret 2024, yang merupakan Rekoleksi Masa Prapaskah terakhir.

Para Oma dan Opa diajak untuk lebih mendalami tema “Solidaritas dan Subsidiartitas dalam Mewujudkan Kesejahteraan Mental Spiritual”.

A. PENGANTAR APP 5

Oma-Opa, Adek-adek Pegawai & Perawat Ytk,

Pada Jumat yang lalu, dalam pendalaman APP 3 & 4 kita telah mendalami bersama tentang Solidaritas & Subsidiaritas dalam mewujudkan KESEJAHTERAAN MENTAL SPIRITUAL.

Ada berbagai cara bagaimana kita dapat memelihara Kesehatan mental spiritual kita:

  1. Menjaga keseimbangan body – mind – soul – spirit (tubuh – pikiran – jiwa – kerohanian).
  2. Misal: dengan rajin berolahraga, makan makanan yang sehat, tidur/istirahat yang cukup, melakukan pekerjaan/permainan yang disukai (memasak, main catur, dengar radio/musik/TV, menjahit, menonton, bersosialisasi dengan teman/sesama Oma-Opa, berpikir & berperilaku baik/positif/tidak merugikan orang lain, berbagi, menolong orang, bersimpati & berempati dengan orang lain, berdoa & mendoakan orang lain, dll.
  3. Jumat yang lalu, kita sudah juga berlatih salah satu bentuk Doa, yaitu Mental Prayer/Doa Mental, atau yang disebut juga DOA BATIN, Doa Hening, Meditasi Kristiani.

Pada hari ini, kita akan mendalami salah satu unsur lain untuk menjaga Kesehatan/Kesejahteraan Mental Spiritual kita.

 

B. “Solidaritas dan Subsidiaritas dalam mewujudkan KESEJAHTERAAN MENTAL SPIRITUAL – BERPIKIR & BERSIKAP POSITIF”

Pendalaman topik ini dimulai dengan kegiatan interaksi lewat:

  1. Mengamati dan mengomentari Gambar.
  2. Memilih salah satu dari 2 Kalimat berikut:
    • “Saya ini Orang Jelek, tetapi ada Baiknya” ?? Atau
    • “Saya ini Orang Baik, tetapi Ada Jeleknya“ ??
  1. Mengamati dan mengomentari Gelas yang diisi dengan air setengah.

Pendalaman Kegiatan:

Ketika kita melihat gelas tadi, apa yang kita pikirkan? Apakah kita berpikir bahwa gelas itu setengah penuh atau setengah kosong?

  • Apa pun yang ada dalam pikiran kita, itu tergantung pada persepsi kita. Dari sudut mana kita memandang dan memaknai gelas tersebut.
  • Apabila kita memilih bahwa gelas tersebut setengah penuh, barangkali kita adalah pribadi yang penuh dengan rasa syukur. Kita memiliki rasa terima kasih dan penghargaan terhadap apa yang telah kita capai dalam kehidupan ini. Kita bisa melihat lalu mengevaluasi hal-hal apa yang telah kita capai kemudian mengapresiasinya dengan lebih baik lagi.
  • Apabila kita berpikir bahwa gelas itu separuh kosong, bisa jadi kita adalah pribadi ambisius yang sulit untuk bersyukur. Bisa jadi kita adalah orang yang tidak pernah merasa puas dan cenderung terpaku untuk melihat kekurangan; kita kurang bisa mensyukuri apa yang sudah kita capai/miliki dan cenderung untuk mengeluh dan selalu merasa kurang.

Apa yang bisa kita pelajari dari separuh air di dalam gelas?

  • Dalam hidup ini, kita ingin agar segalanya sempurna; ibarat gelas, harusnya penuh dengan air.
  • Tidak ada manusia yang menginginkan ada bagian kosong dalam gelas kehidupannya.
  • Namun, adakalanya kita harus berdamai dengan realita kehidupan, dimana tidak segalanya selalu berjalan mulus dan sempurna sesuai dengan keinginan kita; selalu ada hari baik dan buruk, suka dan duka, terang dan gelap, sukses dan gagal, dst.
  • Pemahaman bahwa ada separuh air yang dilandasi dengan rasa syukur akan lebih bermakna dan menyehatkan mental spiritual kita daripada segelas penuh air, namun tanpa rasa syukur.

KISAH 1:

Kemudian. Sr. Petro menuturkan sebuah cerita dari Negeri China “HARI BAIK, HARI BURUK, SIAPA YANG TAHU?”

Ada seorang Petani Tua. Ia mempunyai seekor kuda tua untuk mengerjakan ladangnya. Pada suatu hari kuda itu lari, menghilang di pegunungan. Para Tetangga datang ke rumahnya untuk menyatakan turut bersedih. Namun Petani itu menjawab, ”Hari baik, hari buruk, siapa yang tahu? Bagaimana pun, kami masih beruntung. Orang lain pernah kehilangan kudanya lebih dari seekor.” Mendengar jawaban itu, Para Tetangga mentertawakannya dalam hati.

Seminggu kemudian, si kuda yang tadinya disangka telah hilang itu muncul kembali. Ia bahkan membawa kawanan kuda liar dari pegunungan. Para Tetangga pun datang untuk mengucapkan turut berbahagia kepada Petani itu. Petani itu dengan penuh senyum berkata, “Hari baik, hari buruk, siapa yang tahu? Ya, hari ini kami merasa beruntung.”

Beberapa hari kemudian, anak tunggal Petani itu mencoba menjinakkan salah satu dari kuda liar itu. Namun naas baginya! Ia terjatuh dari punggung kuda dan patah kakinya sehingga timpang jalannya. Semua orang merasa kali ini Petani itu sungguh ditimpa kemalangan.

Tetapi apa kata Petani itu? Ia berkata, ”Hari baik, hari buruk, siapa yang tahu? Bagaimana pun, kami masih beruntung. Untung hanya satu kakinya yang patah.” Mendengar jawabannya itu, Para Tetangga tidak lagi bisa menyembunyikan tawa mereka. Mereka tertawa terpingkal-pingkal.

Beberapa minggu kemudian datanglah Tentara Kerajaan ke desa itu. Mereka hendak mendaftar semua pemuda desa yang sehat dan kuat untuk mengikuti wajib militer. Tetapi ketika mereka me- lihat anak Petani itu yang jalannya timpang, mereka tidak mau membawanya. Anak Petani itu menjadi satu-satunya pemuda dari desa itu yang tidak harus ikut berperang.

Petani itu berkata lagi, “Hari baik, hari buruk, siapa yang tahu?”

Sebuah Lagu, “Blessings”:

 

KISAH 2:

Adalah sebuah cerita tentang seorang Kakek berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, selalu berpakaian rapi setiap hari sejak pagi, dengan rambutnya yang selalu tersisir rapi meskipun dia buta. Dia masuk ke Panti Jompo hari ini. Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke Panti Jompo.

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di Resepsionis, dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap. Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke lift, Pegawai menjelaskan padanya keadaan kamarnya yang kecil dan sederhana, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.

“Saya menyukainya”, kata Kakek itu dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja diberikan hadiah. “Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan itu,” kata Pegawai.

“Hal itu tidak ada hubungannya,” jawab si Kakek. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana keadaan kamar, bagaimana perabotannya diatur, tapi dari bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur. Dalam sisa hidupku ini, Aku punya sebuah pilihan: aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur dengan mengeluhkan semua kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.”

“Setiap hari adalah hadiah, dan selama aku masih bernapas, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan dalam hatiku. Hidup ini hanya sekali. Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan dibank. Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan. Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di Bank Kenangan kita. Terima kasih padamu yang telah mengisi Bank Kenanganku. Aku sedang menyimpannya,” kata si Kakek kepada Pegawai Panti.

Di akhir cerita tentang Kakek yang berbahagia ini, terdapat kutipan berikut:

INGATLAH 5 ATURAN SEDERHANA INI UNTUK HIDUP BAHAGIA

Don’t hate        :  Jangan membenci

Don’t worry    :  Jangan cemas/khawatir

Live simply      :  Hiduplah dg sederhana

Give more       :  Lebih byk memberi

Expect less      :  Jangan terlalu banyak mengharap

 

C. “REFLEKSI”

Pada bagian akhir pendalaman, kepada Oma dan Opa diperdengarkan sebuah renungan yang diambil dari Audio “Smart Motivation” yang berjudul “Apapun yang terjadi patut disyukuri” (Fan shi gan ji).

Di dalam Suratnya kepada Umat di Tesalonika, St. Paulus menyerukan kepada kita: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tes 5: 18)

  1. Apakah masih ada hal-hal yang mengganjal di dalam hatiku dan membebani diriku sehingga membuat Aku tidak dapat bersyukur, menghalangiku berbuat baik dan membuatku tidak mampu mengasihi? Hal-hal apa sajakah itu?
  2. Bagaimana Aku dapat mengatasinya? Apa yang perlu Aku lakukan?

DOA PENUTUP

Allah Bapa Yang Maha Kuasa,

Kami bersyukur pada-Mu atas Masa Prapaskah yang Kau anugerahkan kepada kami. Lewat Masa Prapaskah ini, Engkau menginginkan kami untuk bertobat dan lebih mendekatkan diri kepada-Mu.

Tuhan, dalam masa Prapaskah yang penuh rahmat ini, bantulah kami untuk berubah, agar menjadi orang yang tahu bersyukur, senantiasa ingat akan Dikau, bersedia taat kepada-Mu, dan senantiasa rindu untuk kembali kepada-Mu.

Kami sampaikan doa kami ini dalam nama Yesus. Amin.

REKOLEKSI APP 3 & 4 PSA

Panti Lansia Santa Anna (PSA) menjalankan Rekoleksi Mini Pendalaman Tema APP 3 & 4 pada hari Jumat 15 Maret 2024. Pendalaman Materi APP 3 & 4 digabungkan karena Pemberi materi pendalaman, Sr. Petro, pergi ke Medan pada 8 – 11 Maret untuk menghadiri Pertemuan Yayasan Milik SCMM bersama dengan Dewan Pembina (DPP SCMM).

Setelah Lagu Pembuka dan Doa Pembuka, Sr. Petro memulai dengan Pengantar APP 3 & 4 dan kemudian baru menjelaskan tentang tema “Solidaritas dan Subsidiartitas dalam Mewujudkan Kesejahteraan Mental Spiritual”, serta melatihkan “Mental Prayer (Doa Batin)” sebagai salah satu bentuk aktifitas yang bagus bagi Lansia untuk menjaga Kesehatan Mental Spiritualnya.

A. PENGANTAR APP 3 & 4

Telah kita ketahui bahwa Tema APP kita di tahun 2024 ini sebagai Umat KAJ adalah MEMBANGUN SOLIDARITAS & SUBSIDIARITAS UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN BERSAMA”.

Pada APP 3 & 4 ini, kita akan mendalami bersama Tema “Solidaritas & Subsidiaritas dalam mewujudkan KESEJAHTERAAN MENTAL SPIRITUAL”.

Berikut ini, mari kita lihat beberapa makna/arti kata-kata yang muncul dalam rumusan Tema:

  1. “Solidaritas” adalah: sikap berbagi, turut berperan serta.
  2. “Subsidiaritas”: sikap bantuan dan kepercayaan.
  3. “KESEJAHTERAAN/KESEHATAN MENTAL SPIRITUAL” adalah kondisi sejahtera dimana seseorang berhasil beradaptasi dengan diri sendiri dan dengan lingkungan sekitar, sehingga dia dapat merasakan hidup dengan senang, bahagia, berperilaku secara normal (sesuai norma), serta mampu menghadapi dan menerima berbagai kenyataan termasuk didalamnya kenyataan yang buruk maupun yang baik.
  4. “MENTAL SPIRITUAL” didefinisikan juga sebagai sesuatu yang berhubungan dengan keadaan jiwa seseorang yang mencerminkan suatu sikap, perbuatan, atau tingkah laku yang selaras dan sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang dianutnya.

Kesehatan mental pada prinsipnya berlaku untuk semua lapisan usia, mulai dari Anak-anak, Remaja, Dewasa hingga Lansia. Semua membutuhkan kesehatan mental sesuai dengan tahap usianya.

  1. Berkenaan dengan Kesejahteraan/Kesehatan Mental Spiritual ini, selalu ada kaitannya dengan orang lain. Karena “No man is an island”: manusia tidak dapat hidup sendirian seperti satu pulau di tengah samudera luas. Manusia diciptakan bukan untuk hidup terisolasi sendirian melainkan untuk hidup bersama dengan yang lain, berkelompok atau berkomunitas. Sifat dasar hidup manusia adalah untuk hidup membangun hubungan dengan orang lain. Hidup dalam Lingkungan, Panti Jompo, Asrama, Komunitas, Persahabatan, Keluarga, dsb.
  2. Pada hakikatnya Tuhan menciptakan manusia tidak untuk hidup sendiri-sendiri karena “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.” (Kejadian 2:18). Lalu, Tuhan menciptakan seorang penolong yang sepadan dengan Adam yaitu Hawa untuk beranak-cucu dan berkuasa atas segala ciptaan Tuhan yang ada di bumi. Adam tidak dapat hidup sendiri tanpa Hawa sebagai penolong. Artinya, manusia pasti membutuhkan kehadiran orang lain yang dapat menolong ketika terjatuh, yang menguatkan ketika lemah, yang meringankan ketika ditimpa beban berat, yang memberi penghiburan ketika berduka.
  3. Tuhan Yesus menasihatkan pentingnya sebuah persekutuan, yaitu “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:19-20). Firman Tuhan tersebut mengindikasikan bahwa manusia harus terhubung satu sama lain agar dapat hidup lebih baik. Namun, firman Tuhan menasihatkan agar tetaplah berhati-hati dalam memilih teman, sebab firman Tuhan berkata “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang” (Amsal 13:20) dan “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33).

Kita diharapkan menjalin hubungan yang baik dengan sesama, agar hidup kita menjadi semakin baik.

B. “Solidaritas dan Subsidiaritas dalam mewujudkan KESEJAHTERAAN MENTAL SPIRITUAL”

Kesejahteraan/Kesehatan mental spiritual itu sangat penting. WHO menetapkan tanggal 10 Oktober sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Tujuannya, untuk mengkampanyekan kesehatan mental spiritual dan memberikan edukasi pada masyarakat mengenai isu-isu yang relevan berkaitan dengan kesehatan mental spiritual itu.

  1. Apakah Kesehatan Mental itu? Menurut WHO (2004), kesehatan mental adalah kondisi sejahtera dimana individu mampu:
    • Menyadari kemampuan yang ia miliki.
    • Mengatasi tekanan dan stress dalam kehidupan sehari-hari.
    • Bekerja produktif (bagi yang masih muda)
    • Menjalani kehidupan secara bermakna (bagi Lansia)
    • Mampu berkontribusi aktif di lingkungan atau komunitasnya.
  2. Sedangkan gangguan Kesehatan Mental, yang disebut mental distress, adalah perasaan yang dialami oleh seseorang ketika dihadapkan pada situasi yang menimbulkan ketidaknyamanan, misalnya tidak memiliki pekerjaan tetap, mengalami PHK, beban kerja yang tinggi, banyaknya tugas yang harus dikerjakan, dikhianati teman, pertengkaran dan perpecahan dalam keluarga, dsb. Berbagai situasi tersebut akan memicu munculnya perasaan seperti sedih, kecewa, merasa bersalah, pesimis, marah, benci, dll.
  3. Kondisi apa yang dapat memicu masalah/gangguan pada Kesehatan Mental seseorang?

Apabila dia mengalami suatu kejadian/masalah yang tidak nyaman secara beruntun/terus-menerus dan sifatnya langka/jarang, seperti kematian anggota keluarga, ditipu sehingga usahanya bangkrut, dikhianati suami/isteri, bullying (perilaku agresif yang berulang, disengaja, dan memiliki tujuan untuk menyakiti, merendahkan, atau mendominasi orang lain secara emosional, fisik, atau mental).

  1. Akibat dari masalah/gangguan mental ini: otak mengalami permasalahan sehingga individu tidak dapat menjalankan fungsi kesehariannya, sebagai contoh sulit tidur, mengurung diri di kamar dan menolak aktivitas, gangguan makan yang ekstrim, menghindari relasi sosial, bahkan bisa munculnya ide atau pikiran menyakiti diri/bunuh diri, atau menyakiti/membunuh orang lain.
  2. Cara penanganan:
    • Mental distress dapat menjadi sebuah kesempatan bagi seseorang untuk berupaya mengatasinya dengan menggunakan ketrampilan penyelesaian masalah secara tepat. Ketika seseorang mampu mengatasi kondisi tidak nyaman tersebut dan berhasil mengembangkan dirinya secara positif, maka yang bersangkutan tidak membutuhkan penanganan lebih lanjut dari tenaga profesional.
    • Tetapi pada kondisi yang lebih berat, tentu membutuhkan proses diagnosis dan penanganan lebih lanjut yang dilakukan oleh profesional seperti psikiater dan psikolog.
  1. Gejala-gejala terganggunya Kesejahteraan/Kesehatan Mental Spiritual:
    • Kurang atau terlalu banyak makan dan tidur
    • Loyo, kurang berenergi (tidak berdaya)
    • Sangat sedih, bingung, gelisah, dan takut tanpa alasan yang jelas
    • Mendengar suara-suara, berhalusinasi, atau meyakini hal yang tidak ada/tidak nyata
    • Tidak mampu melakukan pekerjaan sehari-hari yang seharusnya dapat dilakukan dengan mudah, seperti mandi, makan, menyisir rambut, berpakaian, merawat tubuh.
  1. Bagaimana cara kita untuk menjaga Kesejahteraan/Kesehatan Mental Spiritual secara sederhana?
    • Istirahat yang cukup
    • Olahraga secara rutin
    • Terbuka dengan orang lain (kepada orang yang bisa kita percaya, misal orangtua, anak, sahabat dekat, Suster)
    • Makan makanan yang sehat dan yang disukai
    • Mengembangkan sikap bersyukur, dengan: menjaga Kesehatan tubuh, berdoa setiap bangun tidur (“Syukur ya Tuhan, aku masih hidup, bisa bangun, bernapas, dan menikmati kehidupan pada hari ini”), menebarkan kebaikan, berbagi dengan sesama, tidak mengeluh, mengungkapkan kepedulian dan rasa sayang pada orang yang dekat dengan kita, rajin beribadah,
    • BERDOA
    • Berpikir dan Bersikap POSITIF

C. “MENTAL PRAYER”

Pada bagian akhir pendalaman, Sr. Petro memperkenalkan pada Oma-Opa salah satu bentuk DOA yang disebut sebagai “Mental Prayer”, atau “Doa Mental”.

  • Doa ini disebut juga: Doa Batin, Doa Renung (Meditative Prayer), Doa Afeksi (Affective Prayer), Doa Hening (Simplicity Prayer/Contemplative Prayer); atau disebut juga Meditasi Kristiani.
  • Disebut demikian karena Doa ini bukan tentang kata-kata doa, atau serangkaian rumusan doa, melainkan tentang hati yang hening, tulus dan murni ingin berjumpa dengan Allah secara pribadi. Jadi, kata-kata tidak diperlukan; hanya hening, diam, sederhana.
  • Doa ini membawa kita pada ketenangan roh dan ketenangan tubuh, dapat mencegah kita dari kebiasaan-kebiasaan buruk, membuat kita lebih pandai bersyukur dan menghargai kehidupan.

DOA PENUTUP

Allah Bapa Yang Maha Kuasa,

Kami bersyukur pada-Mu atas Masa Prapaskah yang Kau anugerahkan kepada kami. Lewat Masa Prapaskah ini, Engkau menginginkan kami untuk memperbaiki diri kami dan lebih mendekatkan diri kepada-Mu.

Kepada dua murid yang mengikuti Yesus dan bertanya “Guru di mana Engkau tinggal?” (Yoh. 1:38), Yesus tidak menjawab dengan menunjuk suatu tempat tertentu. Ia mengundang mereka untuk datang dan melihat. Hari itu, kedua murid tinggal bersama Yesus.

Semoga dalam Masa Prapaskah ini, kami mampu memahami rahasia tempat tinggal-Mu, yaitu di dalam hati yang mencintai Engkau.

Beri kami kemampuan untuk menyediakan hati dan diri kami menjadi tempat kediaman-Mu. Beri kami kemampuan untuk menjumpai Engkau yang ada di lubuk terdalam batin kami.

Kami sampaikan doa kami ini dalam nama Yesus. Amin.

 

REKOLEKSI APP 2 PSA

Panti Lansia Santa Anna (PSA) menjalankan Rekoleksi Mini Pendalaman Tema APP 2 pada hari Jumat 1 Maret 2024.

Setelah Lagu Pembuka dan Doa Pembuka, Sr. Petro memulai dengan Pengantar APP2 dan kemudian baru menjelaskan tentang “Simpati dan Empati”.

A.  PENGANTAR APP 2

Pada Jumat yang lalu, telah kita lihat bahwa Tema APP di tahun 2024 ini untuk Umat KAJ adalah “MEMBANGUN SOLIDARITAS & SUBSIDIARITAS UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN BERSAMA”.

  1. “SOLIDARITAS” adalah: prinsip yang mengajarkan kita untuk saling peduli, mendukung, saling percaya, dan bertanggung jawab satu sama lain sebagai anggota Komunitas, sebagai warga PSA.
    • Solidaritas mengajarkan kita untuk berbagi beban, kegembiraan, dan kesedihan bersama, serta berusaha untuk menciptakan keadilan, ketenangan, kenyamanan, dan kedamaian dalam tinggal bersama di Panti ini.
    • Solidaritas adalah tindakan berbelarasa dan kepedulian untuk mau merasakan kesusahan dan penderitaan orang lain.
    • Contoh:
    • Ketika ada teman kita yang sakit atau membutuhkan bantuan, kita dapat menunjukkan solidaritas dengan mengunjungi dan membantu mereka.
    • Ketika ada teman yang meninggal, kita menyatakan solidaritas kita dengan pergi melayat, menghadiri Misa Requiem, menciptakan suasana hening untuk berdoa, tidak membuat keributan/kegaduhan, dan lain-lain.
  1. “SUBSIDIARITAS” berasal dari bahasa Latin subsidium, artinya: memberi bantuan.
    • Orang yang lebih mampu membantu yang kurang mampu
    • Yang lebih kuat membantu yang lebih lemah
    • Yang berkelebihan membantu yang berkekurangan
    • Yang lebih tinggi kedudukannya membantu yang lebih rendah kedudukannya.

Dalam Subsidiaritas ini setiap orang dimungkinkan untuk berpartisipasi dalam proses perbaikan dalam upaya mencapai keadaan yang lebih baik, lebih maju, lebih berkembang, lebih berpengharapan.

Contoh:

    • Bila terjadi masalah di Panti, maka Pemimpin Panti bersama Staf & Pegawai diberi kepercayaan dan kesempatan untuk berpartisipasi bagaimana mengupayakan solusi/jalan keluar yang terbaik. Bila tidak bisa, maka baru meminta bantuan dari Ketua Yayasan.
    • Oma-Opa yang masih cukup sehat dan kuat diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam tugas-tugas dan kebersamaan di Panti: menjadi Satpam Gerbang, menjaga Resepsionis, menyumbangkan bakat memasak, menjahit, bermain Kolintang/Dumbuk/Rebana, dan lain-lain.

B.  “SIMPATI dan EMPATI”

Seseorang hanya bisa melakukan tindakan SOLIDARITAS dan SUBSIDIARITAS apabila ia memiliki SIMPATI dan EMPATI.

  1. SIMPATI, artinya turut merasakan (meskipun belum pernah mengalaminya).
  2. EMPATI, artinya turut terlibat.
    • Memahami bagaimana situasi dan kondisi jika berada di posisi orang lain.
    • Suatu sikap mental, dimana seseorang dapat merasakan, memikirkan, bahkan memahami situasi dan kondisi orang lain, yang kemudian mendorong dia melakukan tindakan untuk menolongnya.
    • To put yourself in someone’s place/position/shoes”: menempatkan dirimu pada tempat/posisi/sepatu orang lain.
    • If you could stand in someone else’s shoes… Hear what they hear.. See what they see .. Feel what they feel.. Would you treat them differently???: Jika Anda bisa berdiri di posisi orang lain… Mendengar apa yang mereka dengar… Melihat apa yang mereka lihat… Merasakan apa yang mereka rasakan… Apakah Anda akan memperlakukan mereka secara berbeda???

Kemudian Sr. Petro memutar 3 Film pendek tentang Simpati dan Empati.

 

FILM 1: Film dengan durasi 2 menit ini berhasil sebagai film pendek pemenang Oscar. Film tanpa kata-kata namun berhasil menggambarkan kehidupan manusia masa kini yang egois, miskin etika, hilangnya sopan santun, selalu merasa benar, kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya, tak mau mengalah, tak mau berbagi bahkan berkorban untuk orang lain. Hilangnya empati dan simpati. Dalam film ini, akhirnya siapa yang mengalah, siapa yang justru berhasil menunjukkan sikap Simpati dan Empatinya??

 

FILM 2: “Contoh Perilaku Empati”

 

FILM 3:

 

RENUNGAN:

Di dalam Kitab Suci, kata SIMPATI dan EMPATI dibahasakan sebagai KASIH. Daninilah ciri-ciri orang yang hidup dalam KASIH itu (Roma 12: 9 – 21).

 

DOA PENUTUP

Allah Bapa Yang Maha Kuasa,

Kami bersyukur pada-Mu atas Masa Prapaskah yang Kau anugerahkan kepada kami. Lewat Masa Prapaskah ini. Engkau menginginkan kami untuk menyadari segala kebaikan dan cintakasih-Mu yang begitu besar dan tanpa pamrih.

Semoga dalam Masa Prapaskah ini, kamipun digerakkan untuk hidup dalam kasih, dan bersedia berbagi kasih kepada sesama kami, dengan menjadi lebih bersimpati dan berempati dengan keadaan orang lain, dengan kesulitan dan kesusahan orang lain. Gerakkan hati kami, agar kami mampu menunjukkan simpati dan empati itu dalam sikap dan tindakan yang nyata dalam kehidupan kami sehari-hari, dimana kami bisa menjadi lebih solider, lebih sabar dan menghargai orang lain yang hidup bersama dengan kami, bersedia menolong dimanapun dan kapanpun bantuan kami dibutuhkan.

Kami sampaikan doa kami ini dalam nama Yesus.

Amin.

 

REKOLEKSI APP 1 PSA

Panti Lansia Santa Anna (PSA) menjalankan Rekoleksi-rekoleksi mininya pada setiap hari Jumat selama Masa Prapaskah di bawah bimbingan Ketua Yayasan Santa Anna (YSA), Sr. Petronella Lie SCMM.

Rekoleksi berupa pendalaman APP 1 dilaksanakan pada 23 Februari 2024.

A.  PENGANTAR MASA PRAPASKAH

PENGANTAR 1: “Apakah Masa Prapaskah/APP itu?

  1. Masa Prapaskah adalah Masa persiapan menuju Hari Raya Paskah yang kita jalani dengan 4 B:
    • Berdoa
    • Bertobat
    • Beramal
    • Beraskese / Bermatiraga / Penyangkalan Diri.
  1. Dijalani selama 40 hari, mulai dari hari RABU ABU s/d hari Jumat Agung.

Di tahun 2024:

    • Rabu Abu, 14 Februari
    • Jumat Agung, 29 Maret.
  1. Sedangkan APP (Aksi Puasa Pembangunan) adalah aksi pertobatan yang diwujudkan dlm tindakan.

 

PENGANTAR 2: “ Mengapa pada hari Rabu Abu dahi kita ditandai dengan Tanda Salib dari Abu?”

  1. Menurut Injil TANDA DI DAHI adalah lambang kepemilikan seseorang. Dengan tanda salib di dahinya melambangkan bahwa orang tersebut adalah milik Yesus Kristus.
  2. DAHI / KENING merupakan tempat di mana pusat diri kita sebagai manusia berada (yaitu Otak / Pikiran). Maka, selama Masa Prapaskah, kita hendak secara khusus menempatkan Yesus sebagai Pusat diri dan Pusat dari pikiran kita.
  3. ABU merupakan lambang dari penyesalan akan dosa dan tanda pertobatan.
  4. Abu juga melambangkan KEMATIAN, yang mengingatkan kita akan KETIDAKABADIAN kita. Karenanya, ketika imam dengan ibu jarinya membubuhkan abu di kening umat, ia akan berkata, “Ingatlah, manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu“.

 

PENGANTAR 3: “ Bagaimana Puasa dan Pantang itu bagi orang Katolik?”

  1. PUASA wajib dilakukan oleh orang Katolik yang sudah berusia 18 tahun sampai 60 tahun.
    • Puasa dilakukan mulai pada Rabu Abu sampai Jumat Agung.
    • Puasa berarti makan kenyang satu kali sehari.
  1. PANTANG wajib dilakukan oleh orang yang sudah berusia 14 tahun ke atas.
    • Pantang wajib dilakukan pada Rabu Abu dan setiap hari Jumat selama masa Prapaskah sampai Jumat Agung.
    • Pantang bisa dipilih sendiri sesuai kemampuan misalnya pantang daging, garam, jajan, rokok, alkohol, dll. Namun sebaiknya hal yang dipantangkan adalah hal-hal yang disukai.
  1. BERPANTANG & BERPUASA wajib pada hari Rabu Abu, dan Jumat Agung.
  2. Berpuasa dan berpantang itu bukan soal menahan lapar.
    • Kalau menahan lapar berarti setelah berbuka puasa, maka kita boleh makan sepuasnya. Misalnya makan tiga kali, lalu karena puasa jadi makannya ditahan sampai jam berbuka puasa lalu makan sebanyak tiga kali lipat porsinya.
    • Puasa itu bukan menahan, tapi mengurangi, terutama mengurangi berbagai macam tingkah laku yang buruk, bertobat dari dosa favorit atau dosa yang dilakukan setiap hari, untuk membantu kita mengembalikan citra / jati diri kita menjadi anak-anak Tuhan.
    • Puasa dan pantang disebut juga sebagai ‘mati raga‘, dengan harapan bisa mematikan semua hal-hal buruk dalam raga (tubuh) manusiawi kita agar dapat menjadi suci kembali.
    • Jadi, Puasa bukan cuma soal mengurangi makanan dan menahan nafsu; puasa itu juga diet, yaitu diet dari segala dosa!
  1. Satu hal perlu diingat ketika menjalankan perintah pantang dan puasa: Umat Katolik diminta agar tulus dan melakukannya untuk Tuhan, bukan untuk pamer.

Matius 6:16-18.

“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

  1. Pada Tahun 2024 ini, Mgr. Kardinal Ignasius Suharyo, Bapak Uskup Agung KAJ, mengajak kita untuk “MEMPERKUAT SOLIDARITAS & SUBSIDIARITAS UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN BERSAMA”. Ini sekaligus merupakan Tema APP KAJ 2024:
    • Solidaritas BUKAN suatu perasaan haru, kasihan, atau rasa sedih yang dangkal atas ketidakberuntungan orang lain.

Solidaritas merupakan tekad / niat yang kuat untuk membaktikan diri demi kesejahteraan bersama; artinya demi kebaikan orang lain, karena kita semua memiliki tanggungjawab atas diri sendiri dan atas diri sesama kita.

    • “Subsidiaritas” berasal dari bahasa Latin subsidium, artinya: memberi bantuan. Orang yang lebih mampu, lebih kuat, berkelebihan, atau yang lebih tinggi kedudukannya, membantu yang kurang mampu, yang lbh lemah, yang berkekurangan, atau yang lebih rendah kedudukannya.

Pertanyaan:

  1. Bagaimana kita dapat mewujudkan Kesejahteraan Bersama di PSA ini?
  2. Kesejahteraan seperti apa yang kita inginkan?

 

B.  “THE 3 MEANINGS OF LENT” (3 MAKNA ‘LENT’ / PRA PASKAH)

Mengapa disebut “LENT”?

  1. Makna LENT dalam Bahasa Bahasa Jerman lenz adalah “musim semi” (spring). Jika kita ke Eropah atau ke Amerika pada saat musim semi, kita akan melihat bunga-bunga berkembang, tunas-tunas dan pucuk-pucuk daun muda bermunculan.
    • Dalam arti kata lenz / spring / musim semi ini, bisa dikatakan bahwa Prapaskah adalah musim semi bagi jiwa.
    • Prapaskah merupakan Musim Semi bagi jiwa, karena pada Masa Prapaskah orang lebih memperhatikan kebutuhan jiwa dan rohaninya; bertekad untuk lebih banyak berdoa, bertobat, beramal, dan beraskese.
    • Bila pada Misa Harian, biasanya sedikit saja umat yang hadir, maka pada hari Rabu Abu, di banyak Gereja umat melimpah ruah menghadiri Misa. Dan sesudahnya, di Masa Prapaskah, akan banyak Umat lebih rajin berdoa, mengikuti Ibadat Jalan Salib, menghadiri Misa, menerima Sakramen Tobat, dan lain-lain.
  1. LENT” dalam Bahasa Latin “lente”, artinya “perlahan-lahan” (slowly).
    • Jika biasanya kita bergerak serba cepat, maka di masa Prapaskah kita hendak berjalan lebih lambat, kita berlari lebih pelan dalam kehidupan dan lebih menghargai hal-hal kecil yang kita abaikan selama ini.
    • Perlahan-lahan saja, karena ketergesaan akan menghasilkan kesia-siaan, membuat kita akan berakhir dengan capek, lelah, dan letih.
    • Maka Masa Prapaskah adalah waktu untuk mengerem, menghargai kesegaran angin sepoi-sepoi, menghargai keluarga, menghargai teman-teman yang kita abaikan selama ini, untuk berhubungan kembali dengan orangtua yang mungkin sudah lama tidak kita jenguk karena kita begitu sibuk mengejar karir, begitu sibuk dengan diri kita sendiri.
  1. LENT” dalam Bahasa Inggris adalah bentuk lampau (bentuk past) dari “lend”, artinya “meminjamkan”. Jika seseorang “meminjamkan” (lend), maka yang lain “meminjam” (borrow), dan yang dipinjamkan adalah “pinjaman“.
    • Maka, Masa Prapaskah juga merupakan masa untuk mengingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah “pinjaman”, dan Tuhan adalah Sang Maha Peminjam, yang bukan seperti pegadaian, bukan bank, yang meminjamkan secara terbatas.
    • Tuhan Sang Maha Peminjam meminjamkan pada kita begitu banyak hal, dimana akan ada saatnya kita harus mengembalikan apa yang telah kita pinjam itu, saat dimana kita mengingat bahwa kita hanyalah debu yang akan kembali menjadi debu.

Ingatlah bahwa “engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej 3: 19)

DOA PENUTUP

Allah Bapa Yang Maha Kuasa,

Kami bersyukur kepada-Mu atas Masa Prapaskah yang Kau anugerahkan kepada kami. Lewat Masa Prapaskah ini. Engkau menginginkan kami untuk menyadari segala kebaikan-Mu. Selama Masa Prapaskah ini Engkau melimpahkan rahmat untuk menyegarkan iman kami.

Engkau mengajak kami untuk bertobat, menyesali kekurangan dan dosa-dosa kami. Engkau mendorong kami melepaskan diri dari belenggu nafsu yang menyesatkan. Engkau mengajar kami untuk hidup sederhana, mensyukuri segala anugerah-Mu, dan membantu orang-orang yang menderita.

Semoga karena rahmat-MU, yang Kau limpahkah selama Masa Prapaskah ini, kami semakin suci, semakin bersatu dengan umat kesayangan-MU, dan berani meneladani Yesus Putra-MU, yang rela menderita sengsara, wafat dan bangkit untuk menyelamatkan kami.

Sebab dialah Tuhan dan Pengantara kami, kini dan sepanjang masa.

Amin.

“LENT”: The 3 Meanings of LENT

Panti Lansia Santa Anna (PSA) menjalani Masa Prapaskah dengan 4 B, yaitu Berdoa, Berpuasa & Berpantang, Berderma, dan Bermatiraga (Beraskese). 

Ketua Yayasan, Sr. Petronella Lie SCMM, secara teratur akan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan refleksi dan pendalaman bersama Para Oma-Opa di PSA selama Masa Prapaskah agar menjadi masa yang penuh arti untuk transformasi, metanoia, dan renewal.

Materi yang digunakan terutama bersumber dari Tema APP 2024 yang telah ditentukan oleh Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), dan dari berbagai sumber lainnya.

“You are dust and unto dust you shall return” (Gen. 3: 19)

THE 3 MEANINGS OF LENT (3 MAKNA PRA PASKAH)

Mengapa disebut “LENT”?

  1. Makna LENT dalam Bahasa Bahasa Jerman lenz adalah “musim semi” (spring), khususnya di Eropah, dan di beberapa Negara lainnya akan merupakan musim panas (summer) dimana pohon-pohon, tanaman, dan rerumputan menjadi kering. Namun ketika pohon mengering, itu merupakan saat dimana akar-akarnya masuk lebih dalam ke bumi. Jadi, justeru merupakan musim semi bagi akar-akar pepohonan itu.

Maka, bisa dikatakan bahwa Prapaskah adalah musim semi bagi jiwa. Jika kita ke Eropah atau ke Amerika pada saat musim semi, kita akan melihat bunga-bunga berkembang, pucuk-pucuk daun muda bermunculan selama masa Prapaskah, karena Prapaskah merupakan Musim Semi bagi jiwa. Ini memang juga adalah saat pengorbanan, doa, amal, namun jiwa berkembang dan disegarkan selama Masa Prapaskah. Pada Misa Harian, biasanya sedikit saja umat yang hadir. Tetapi di banyak Gereja, umat melimpah ruah menghadiri Misa pada hari Rabu Abu. Dan sesudahnya, akan banyak Umat lebih rajin berdoa, Jalan Salib, menerima Sakramen Tobat, dan lain-lain.

 

2.  “LENT” dalam Bahasa Latin lente, artinya “perlahan-lahan” (slowly). Jika biasanya kita bergerak serba cepat, maka di masa Prapaskah kita hendak berjalan lebih lambat, kita berlari perlahan-lahan dalam kehidupan dan lebih menghargai hal-hal kecil yang kita abaikan selama ini. Perlahan-lahan saja, karena ketergesaan akan menghasilkan kesia-siaan, membuat kita akan berakhir dengan capek, lelah, dan letih. Maka Masa Prapaskah adalah waktu untuk mengerem, menghargai kesegaran angin sepoi-sepoi, menghargai keluarga, menghargai teman-teman yang kita abaikan, untuk berhubungan kembali dengan orangtua yang mungkin sudah lama tidak kita jenguk karena kita begitu sibuk mengejar karir, begitu sibuk dengan diri kita sendiri.

 

3.  “LENT” dalam Bahasa Inggris adalah bentuk lampau (bentuk past) dari lend, artinya “meminjamkan”. Jika seseorang “meminjamkan” (lend), maka yang lain “meminjam” (borrow), dan yang dipinjamkan adalah “pinjaman“. Maka, Masa Prapaskah juga merupakan masa untuk mengingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah “pinjaman”, dan Tuhan adalah Sang Maha Peminjam, yang bukan seperti pegadaian atau bukan bank. Tuhan Sang Maha Peminjam meminjamkan kita begitu banyak hal dimana akan ada saatnya kita harus mengembalikan apa yang telah kita pinjam itu, saat dimana kita mengingat bahwa kita hanyalah debu yang akan kembali menjadi debu.

 

Maka dalam Masa Prapaskah yang diawali dengan RABU ABU, baiklah kita merefleksikan 3 makna Prapaskah (LENT) itu, yaitu sebagai:

  1. Musim Semi bagi jiwa kita.
  2. Masa untuk mengerem, lebih lambat, perlahan-lahan.
  3. Saat untuk mengingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki merupakan pinjaman, dan kita harus mengembalikan apa yang kita pinjam dengan gembira dan berlimpah-limpah.

Ingatlah bahwa “engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej 3: 19)