Panti Lansia Santa Anna (PSA) menjalankan Rekoleksi Mini Pendalaman Tema APP 3 & 4 pada hari Jumat 15 Maret 2024. Pendalaman Materi APP 3 & 4 digabungkan karena Pemberi materi pendalaman, Sr. Petro, pergi ke Medan pada 8 – 11 Maret untuk menghadiri Pertemuan Yayasan Milik SCMM bersama dengan Dewan Pembina (DPP SCMM).
Setelah Lagu Pembuka dan Doa Pembuka, Sr. Petro memulai dengan Pengantar APP 3 & 4 dan kemudian baru menjelaskan tentang tema “Solidaritas dan Subsidiartitas dalam Mewujudkan Kesejahteraan Mental Spiritual”, serta melatihkan “Mental Prayer (Doa Batin)” sebagai salah satu bentuk aktifitas yang bagus bagi Lansia untuk menjaga Kesehatan Mental Spiritualnya.

A. PENGANTAR APP 3 & 4
Telah kita ketahui bahwa Tema APP kita di tahun 2024 ini sebagai Umat KAJ adalah MEMBANGUN SOLIDARITAS & SUBSIDIARITAS UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN BERSAMA”.
Pada APP 3 & 4 ini, kita akan mendalami bersama Tema “Solidaritas & Subsidiaritas dalam mewujudkan KESEJAHTERAAN MENTAL SPIRITUAL”.
Berikut ini, mari kita lihat beberapa makna/arti kata-kata yang muncul dalam rumusan Tema:
- “Solidaritas” adalah: sikap berbagi, turut berperan serta.
- “Subsidiaritas”: sikap bantuan dan kepercayaan.
- “KESEJAHTERAAN/KESEHATAN MENTAL SPIRITUAL” adalah kondisi sejahtera dimana seseorang berhasil beradaptasi dengan diri sendiri dan dengan lingkungan sekitar, sehingga dia dapat merasakan hidup dengan senang, bahagia, berperilaku secara normal (sesuai norma), serta mampu menghadapi dan menerima berbagai kenyataan termasuk didalamnya kenyataan yang buruk maupun yang baik.
- “MENTAL SPIRITUAL” didefinisikan juga sebagai sesuatu yang berhubungan dengan keadaan jiwa seseorang yang mencerminkan suatu sikap, perbuatan, atau tingkah laku yang selaras dan sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang dianutnya.
Kesehatan mental pada prinsipnya berlaku untuk semua lapisan usia, mulai dari Anak-anak, Remaja, Dewasa hingga Lansia. Semua membutuhkan kesehatan mental sesuai dengan tahap usianya.
- Berkenaan dengan Kesejahteraan/Kesehatan Mental Spiritual ini, selalu ada kaitannya dengan orang lain. Karena “No man is an island”: manusia tidak dapat hidup sendirian seperti satu pulau di tengah samudera luas. Manusia diciptakan bukan untuk hidup terisolasi sendirian melainkan untuk hidup bersama dengan yang lain, berkelompok atau berkomunitas. Sifat dasar hidup manusia adalah untuk hidup membangun hubungan dengan orang lain. Hidup dalam Lingkungan, Panti Jompo, Asrama, Komunitas, Persahabatan, Keluarga, dsb.
- Pada hakikatnya Tuhan menciptakan manusia tidak untuk hidup sendiri-sendiri karena “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.” (Kejadian 2:18). Lalu, Tuhan menciptakan seorang penolong yang sepadan dengan Adam yaitu Hawa untuk beranak-cucu dan berkuasa atas segala ciptaan Tuhan yang ada di bumi. Adam tidak dapat hidup sendiri tanpa Hawa sebagai penolong. Artinya, manusia pasti membutuhkan kehadiran orang lain yang dapat menolong ketika terjatuh, yang menguatkan ketika lemah, yang meringankan ketika ditimpa beban berat, yang memberi penghiburan ketika berduka.
- Tuhan Yesus menasihatkan pentingnya sebuah persekutuan, yaitu “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:19-20). Firman Tuhan tersebut mengindikasikan bahwa manusia harus terhubung satu sama lain agar dapat hidup lebih baik. Namun, firman Tuhan menasihatkan agar tetaplah berhati-hati dalam memilih teman, sebab firman Tuhan berkata “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang” (Amsal 13:20) dan “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33).
Kita diharapkan menjalin hubungan yang baik dengan sesama, agar hidup kita menjadi semakin baik.
B. “Solidaritas dan Subsidiaritas dalam mewujudkan KESEJAHTERAAN MENTAL SPIRITUAL”
Kesejahteraan/Kesehatan mental spiritual itu sangat penting. WHO menetapkan tanggal 10 Oktober sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Tujuannya, untuk mengkampanyekan kesehatan mental spiritual dan memberikan edukasi pada masyarakat mengenai isu-isu yang relevan berkaitan dengan kesehatan mental spiritual itu.
- Apakah Kesehatan Mental itu? Menurut WHO (2004), kesehatan mental adalah kondisi sejahtera dimana individu mampu:
- Menyadari kemampuan yang ia miliki.
- Mengatasi tekanan dan stress dalam kehidupan sehari-hari.
- Bekerja produktif (bagi yang masih muda)
- Menjalani kehidupan secara bermakna (bagi Lansia)
- Mampu berkontribusi aktif di lingkungan atau komunitasnya.
- Sedangkan gangguan Kesehatan Mental, yang disebut mental distress, adalah perasaan yang dialami oleh seseorang ketika dihadapkan pada situasi yang menimbulkan ketidaknyamanan, misalnya tidak memiliki pekerjaan tetap, mengalami PHK, beban kerja yang tinggi, banyaknya tugas yang harus dikerjakan, dikhianati teman, pertengkaran dan perpecahan dalam keluarga, dsb. Berbagai situasi tersebut akan memicu munculnya perasaan seperti sedih, kecewa, merasa bersalah, pesimis, marah, benci, dll.
- Kondisi apa yang dapat memicu masalah/gangguan pada Kesehatan Mental seseorang?
Apabila dia mengalami suatu kejadian/masalah yang tidak nyaman secara beruntun/terus-menerus dan sifatnya langka/jarang, seperti kematian anggota keluarga, ditipu sehingga usahanya bangkrut, dikhianati suami/isteri, bullying (perilaku agresif yang berulang, disengaja, dan memiliki tujuan untuk menyakiti, merendahkan, atau mendominasi orang lain secara emosional, fisik, atau mental).
- Akibat dari masalah/gangguan mental ini: otak mengalami permasalahan sehingga individu tidak dapat menjalankan fungsi kesehariannya, sebagai contoh sulit tidur, mengurung diri di kamar dan menolak aktivitas, gangguan makan yang ekstrim, menghindari relasi sosial, bahkan bisa munculnya ide atau pikiran menyakiti diri/bunuh diri, atau menyakiti/membunuh orang lain.
- Cara penanganan:
-
- Mental distress dapat menjadi sebuah kesempatan bagi seseorang untuk berupaya mengatasinya dengan menggunakan ketrampilan penyelesaian masalah secara tepat. Ketika seseorang mampu mengatasi kondisi tidak nyaman tersebut dan berhasil mengembangkan dirinya secara positif, maka yang bersangkutan tidak membutuhkan penanganan lebih lanjut dari tenaga profesional.
- Tetapi pada kondisi yang lebih berat, tentu membutuhkan proses diagnosis dan penanganan lebih lanjut yang dilakukan oleh profesional seperti psikiater dan psikolog.
- Gejala-gejala terganggunya Kesejahteraan/Kesehatan Mental Spiritual:
-
- Kurang atau terlalu banyak makan dan tidur
- Loyo, kurang berenergi (tidak berdaya)
- Sangat sedih, bingung, gelisah, dan takut tanpa alasan yang jelas
- Mendengar suara-suara, berhalusinasi, atau meyakini hal yang tidak ada/tidak nyata
- Tidak mampu melakukan pekerjaan sehari-hari yang seharusnya dapat dilakukan dengan mudah, seperti mandi, makan, menyisir rambut, berpakaian, merawat tubuh.
- Bagaimana cara kita untuk menjaga Kesejahteraan/Kesehatan Mental Spiritual secara sederhana?
-
- Istirahat yang cukup
- Olahraga secara rutin
- Terbuka dengan orang lain (kepada orang yang bisa kita percaya, misal orangtua, anak, sahabat dekat, Suster)
- Makan makanan yang sehat dan yang disukai
- Mengembangkan sikap bersyukur, dengan: menjaga Kesehatan tubuh, berdoa setiap bangun tidur (“Syukur ya Tuhan, aku masih hidup, bisa bangun, bernapas, dan menikmati kehidupan pada hari ini”), menebarkan kebaikan, berbagi dengan sesama, tidak mengeluh, mengungkapkan kepedulian dan rasa sayang pada orang yang dekat dengan kita, rajin beribadah,
- BERDOA
- Berpikir dan Bersikap POSITIF
C. “MENTAL PRAYER”
Pada bagian akhir pendalaman, Sr. Petro memperkenalkan pada Oma-Opa salah satu bentuk DOA yang disebut sebagai “Mental Prayer”, atau “Doa Mental”.
- Doa ini disebut juga: Doa Batin, Doa Renung (Meditative Prayer), Doa Afeksi (Affective Prayer), Doa Hening (Simplicity Prayer/Contemplative Prayer); atau disebut juga Meditasi Kristiani.
- Disebut demikian karena Doa ini bukan tentang kata-kata doa, atau serangkaian rumusan doa, melainkan tentang hati yang hening, tulus dan murni ingin berjumpa dengan Allah secara pribadi. Jadi, kata-kata tidak diperlukan; hanya hening, diam, sederhana.
- Doa ini membawa kita pada ketenangan roh dan ketenangan tubuh, dapat mencegah kita dari kebiasaan-kebiasaan buruk, membuat kita lebih pandai bersyukur dan menghargai kehidupan.
DOA PENUTUP
Allah Bapa Yang Maha Kuasa,
Kami bersyukur pada-Mu atas Masa Prapaskah yang Kau anugerahkan kepada kami. Lewat Masa Prapaskah ini, Engkau menginginkan kami untuk memperbaiki diri kami dan lebih mendekatkan diri kepada-Mu.
Kepada dua murid yang mengikuti Yesus dan bertanya “Guru di mana Engkau tinggal?” (Yoh. 1:38), Yesus tidak menjawab dengan menunjuk suatu tempat tertentu. Ia mengundang mereka untuk datang dan melihat. Hari itu, kedua murid tinggal bersama Yesus.
Semoga dalam Masa Prapaskah ini, kami mampu memahami rahasia tempat tinggal-Mu, yaitu di dalam hati yang mencintai Engkau.
Beri kami kemampuan untuk menyediakan hati dan diri kami menjadi tempat kediaman-Mu. Beri kami kemampuan untuk menjumpai Engkau yang ada di lubuk terdalam batin kami.
Kami sampaikan doa kami ini dalam nama Yesus. Amin.