Panti Lansia Santa Anna (PSA) menjalankan Rekoleksi Mini Pendalaman Tema APP 5 pada hari Jumat 22 Maret 2024, yang merupakan Rekoleksi Masa Prapaskah terakhir.

Para Oma dan Opa diajak untuk lebih mendalami tema “Solidaritas dan Subsidiartitas dalam Mewujudkan Kesejahteraan Mental Spiritual”.

A. PENGANTAR APP 5

Oma-Opa, Adek-adek Pegawai & Perawat Ytk,

Pada Jumat yang lalu, dalam pendalaman APP 3 & 4 kita telah mendalami bersama tentang Solidaritas & Subsidiaritas dalam mewujudkan KESEJAHTERAAN MENTAL SPIRITUAL.

Ada berbagai cara bagaimana kita dapat memelihara Kesehatan mental spiritual kita:

  1. Menjaga keseimbangan body – mind – soul – spirit (tubuh – pikiran – jiwa – kerohanian).
  2. Misal: dengan rajin berolahraga, makan makanan yang sehat, tidur/istirahat yang cukup, melakukan pekerjaan/permainan yang disukai (memasak, main catur, dengar radio/musik/TV, menjahit, menonton, bersosialisasi dengan teman/sesama Oma-Opa, berpikir & berperilaku baik/positif/tidak merugikan orang lain, berbagi, menolong orang, bersimpati & berempati dengan orang lain, berdoa & mendoakan orang lain, dll.
  3. Jumat yang lalu, kita sudah juga berlatih salah satu bentuk Doa, yaitu Mental Prayer/Doa Mental, atau yang disebut juga DOA BATIN, Doa Hening, Meditasi Kristiani.

Pada hari ini, kita akan mendalami salah satu unsur lain untuk menjaga Kesehatan/Kesejahteraan Mental Spiritual kita.

 

B. “Solidaritas dan Subsidiaritas dalam mewujudkan KESEJAHTERAAN MENTAL SPIRITUAL – BERPIKIR & BERSIKAP POSITIF”

Pendalaman topik ini dimulai dengan kegiatan interaksi lewat:

  1. Mengamati dan mengomentari Gambar.
  2. Memilih salah satu dari 2 Kalimat berikut:
    • “Saya ini Orang Jelek, tetapi ada Baiknya” ?? Atau
    • “Saya ini Orang Baik, tetapi Ada Jeleknya“ ??
  1. Mengamati dan mengomentari Gelas yang diisi dengan air setengah.

Pendalaman Kegiatan:

Ketika kita melihat gelas tadi, apa yang kita pikirkan? Apakah kita berpikir bahwa gelas itu setengah penuh atau setengah kosong?

  • Apa pun yang ada dalam pikiran kita, itu tergantung pada persepsi kita. Dari sudut mana kita memandang dan memaknai gelas tersebut.
  • Apabila kita memilih bahwa gelas tersebut setengah penuh, barangkali kita adalah pribadi yang penuh dengan rasa syukur. Kita memiliki rasa terima kasih dan penghargaan terhadap apa yang telah kita capai dalam kehidupan ini. Kita bisa melihat lalu mengevaluasi hal-hal apa yang telah kita capai kemudian mengapresiasinya dengan lebih baik lagi.
  • Apabila kita berpikir bahwa gelas itu separuh kosong, bisa jadi kita adalah pribadi ambisius yang sulit untuk bersyukur. Bisa jadi kita adalah orang yang tidak pernah merasa puas dan cenderung terpaku untuk melihat kekurangan; kita kurang bisa mensyukuri apa yang sudah kita capai/miliki dan cenderung untuk mengeluh dan selalu merasa kurang.

Apa yang bisa kita pelajari dari separuh air di dalam gelas?

  • Dalam hidup ini, kita ingin agar segalanya sempurna; ibarat gelas, harusnya penuh dengan air.
  • Tidak ada manusia yang menginginkan ada bagian kosong dalam gelas kehidupannya.
  • Namun, adakalanya kita harus berdamai dengan realita kehidupan, dimana tidak segalanya selalu berjalan mulus dan sempurna sesuai dengan keinginan kita; selalu ada hari baik dan buruk, suka dan duka, terang dan gelap, sukses dan gagal, dst.
  • Pemahaman bahwa ada separuh air yang dilandasi dengan rasa syukur akan lebih bermakna dan menyehatkan mental spiritual kita daripada segelas penuh air, namun tanpa rasa syukur.

KISAH 1:

Kemudian. Sr. Petro menuturkan sebuah cerita dari Negeri China “HARI BAIK, HARI BURUK, SIAPA YANG TAHU?”

Ada seorang Petani Tua. Ia mempunyai seekor kuda tua untuk mengerjakan ladangnya. Pada suatu hari kuda itu lari, menghilang di pegunungan. Para Tetangga datang ke rumahnya untuk menyatakan turut bersedih. Namun Petani itu menjawab, ”Hari baik, hari buruk, siapa yang tahu? Bagaimana pun, kami masih beruntung. Orang lain pernah kehilangan kudanya lebih dari seekor.” Mendengar jawaban itu, Para Tetangga mentertawakannya dalam hati.

Seminggu kemudian, si kuda yang tadinya disangka telah hilang itu muncul kembali. Ia bahkan membawa kawanan kuda liar dari pegunungan. Para Tetangga pun datang untuk mengucapkan turut berbahagia kepada Petani itu. Petani itu dengan penuh senyum berkata, “Hari baik, hari buruk, siapa yang tahu? Ya, hari ini kami merasa beruntung.”

Beberapa hari kemudian, anak tunggal Petani itu mencoba menjinakkan salah satu dari kuda liar itu. Namun naas baginya! Ia terjatuh dari punggung kuda dan patah kakinya sehingga timpang jalannya. Semua orang merasa kali ini Petani itu sungguh ditimpa kemalangan.

Tetapi apa kata Petani itu? Ia berkata, ”Hari baik, hari buruk, siapa yang tahu? Bagaimana pun, kami masih beruntung. Untung hanya satu kakinya yang patah.” Mendengar jawabannya itu, Para Tetangga tidak lagi bisa menyembunyikan tawa mereka. Mereka tertawa terpingkal-pingkal.

Beberapa minggu kemudian datanglah Tentara Kerajaan ke desa itu. Mereka hendak mendaftar semua pemuda desa yang sehat dan kuat untuk mengikuti wajib militer. Tetapi ketika mereka me- lihat anak Petani itu yang jalannya timpang, mereka tidak mau membawanya. Anak Petani itu menjadi satu-satunya pemuda dari desa itu yang tidak harus ikut berperang.

Petani itu berkata lagi, “Hari baik, hari buruk, siapa yang tahu?”

Sebuah Lagu, “Blessings”:

 

KISAH 2:

Adalah sebuah cerita tentang seorang Kakek berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, selalu berpakaian rapi setiap hari sejak pagi, dengan rambutnya yang selalu tersisir rapi meskipun dia buta. Dia masuk ke Panti Jompo hari ini. Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke Panti Jompo.

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di Resepsionis, dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap. Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke lift, Pegawai menjelaskan padanya keadaan kamarnya yang kecil dan sederhana, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.

“Saya menyukainya”, kata Kakek itu dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja diberikan hadiah. “Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan itu,” kata Pegawai.

“Hal itu tidak ada hubungannya,” jawab si Kakek. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana keadaan kamar, bagaimana perabotannya diatur, tapi dari bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur. Dalam sisa hidupku ini, Aku punya sebuah pilihan: aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur dengan mengeluhkan semua kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.”

“Setiap hari adalah hadiah, dan selama aku masih bernapas, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan dalam hatiku. Hidup ini hanya sekali. Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan dibank. Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan. Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di Bank Kenangan kita. Terima kasih padamu yang telah mengisi Bank Kenanganku. Aku sedang menyimpannya,” kata si Kakek kepada Pegawai Panti.

Di akhir cerita tentang Kakek yang berbahagia ini, terdapat kutipan berikut:

INGATLAH 5 ATURAN SEDERHANA INI UNTUK HIDUP BAHAGIA

Don’t hate        :  Jangan membenci

Don’t worry    :  Jangan cemas/khawatir

Live simply      :  Hiduplah dg sederhana

Give more       :  Lebih byk memberi

Expect less      :  Jangan terlalu banyak mengharap

 

C. “REFLEKSI”

Pada bagian akhir pendalaman, kepada Oma dan Opa diperdengarkan sebuah renungan yang diambil dari Audio “Smart Motivation” yang berjudul “Apapun yang terjadi patut disyukuri” (Fan shi gan ji).

Di dalam Suratnya kepada Umat di Tesalonika, St. Paulus menyerukan kepada kita: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tes 5: 18)

  1. Apakah masih ada hal-hal yang mengganjal di dalam hatiku dan membebani diriku sehingga membuat Aku tidak dapat bersyukur, menghalangiku berbuat baik dan membuatku tidak mampu mengasihi? Hal-hal apa sajakah itu?
  2. Bagaimana Aku dapat mengatasinya? Apa yang perlu Aku lakukan?

DOA PENUTUP

Allah Bapa Yang Maha Kuasa,

Kami bersyukur pada-Mu atas Masa Prapaskah yang Kau anugerahkan kepada kami. Lewat Masa Prapaskah ini, Engkau menginginkan kami untuk bertobat dan lebih mendekatkan diri kepada-Mu.

Tuhan, dalam masa Prapaskah yang penuh rahmat ini, bantulah kami untuk berubah, agar menjadi orang yang tahu bersyukur, senantiasa ingat akan Dikau, bersedia taat kepada-Mu, dan senantiasa rindu untuk kembali kepada-Mu.

Kami sampaikan doa kami ini dalam nama Yesus. Amin.