Dalam pekan kedua beraktifitas di PSA Teluk Gong, dalam rangka membiasakan Oma dan Opa berpartisipasi di dalam KEGIATAN SEPEKAN yang telah disepakati bersama untuk dijalankan, Sr. Petro menyelenggarakan pertemuan-pertemuan untuk menyelesaikan OGF (On Going Formation) “FULLY HUMAN – FULLY ALIVE” Seri Pertama.
Sebagaimana biasanya, di dalam Kegiatan-kegiatan itu, Oma-Opa PSA Teluk Gong diajak untuk berinteraksi dan melakukan beberapa Latihan praktis yang sangat sederhana untuk mengakifkan daya pikir dan refleksi, seperti:
- Sessi Q & A, Tanya-Jawab, selama pertemuan.
- Mengerjakan beberapa Refleksi sederhana sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
- Latihan “TAMENG”.
(Hasil Latihan TAMENG para Oma dan Opa di PSA Teluk Gong didokumentasikan dalam bentuk Video, tetapi karena size-nya besar maka tidak bisa di upload disini.)
Kegiatan pada pekan kedua ini diakhiri pada hari Jumat, 3 Maret, dengan Sosialisasi APP 1 dalam rangka Masa Pra Pra Paskah 2023. Oma-oma dari PSA Grisenda digabungkan ke PSA Teluk Gong, agar Sr. Petro tidak perlu melakukan penayangan acara ini dua kali. Acara dimulai pada jam 09.30 – 11.00.
Sr. Petro membuka kegiatan dengan Doa Pagi yang tenang dan teduh. Kemudian dilanjutkan dengan 3 topik pendalaman untuk mengisi pertemuan APP 1 ini:
- Dari Tema APP KAJ “Kesejahteraan / Kebaikan Bersama”
- APP Kita, Oma & Opa PSA
- Latihan “HAIKU”

PENDALAMAN I

- Dalam homilinya, Mgr. Kardinal Ignatius Suharyo mengajak umat KAJ untuk semakin kreatif mendalami dan mewujudkan kebaikan bersama,
- dimana semua orang dapat menikmati hidup yang damai dan sejahtera
- agar, wajah Allah yang mulia, berbelaskasih, murah hati semakin nyata.
- Caranya, kita diharapkan:
- Semakin mengasihi
- Semakin peduli
- Semakin bersaksi.
- Ini merupakan kewajiban KITA SEMUA, bukan hanya orang-orang tertentu saja. Karena ketika dibaptis, kita semua mendapat 3 tugas, yang menjadi identitas kita, yakni sebagai:
- ANAK ALLAH: Ini bukan suatu gelar atau pangkat tetapi tugas, dimana cara hidup kita sebagai Anak mestinya mengungkapkan tentang Allah, yang adalah BAPA kita. Maka sebagaimana BAPA kita baik dan kudus adanya, hidup kitapun harus baik dan kudus!
- WNS / Warga Negara Surga: Ini bukan merupakan JAMINAN bahwa nanti kalau meninggal pasti masuk Surga, melainkan TUGAS untuk menghadirkan Surga bagi orang lain, menciptakan SURGA dimanapun kita berada.
- Warga Gereja: Ketika kita dibaptis, kita dilantik menjadi warga Gereja, bukan lagi warga Dunia. Kita mendapat tugas untuk menjunjung tinggi hidup menggereja, aktif mengikuti aturan-aturan dan kegiatan-kegiatan Gereja, mencintai Gereja dimana kita menjadi anggotanya.
PENDALAMAN 2

Minggu yll, ketika Sr. Petro menerangkan “WHAT”, Apakah Masa Pra Paskah itu, kepada Oma-Opa sudah diterangkan bahwa Masa Pra Paskah adalah MASA PERSIAPAN menuju Hari Raya Paskah, yang hendak kita isi dan jalankan dengan 4 B:
- Berdoa
- Bertobat
- Beramal
- Bermatiraga
Yang dilakukan selama 40 hari, mulai Rabu Abu 22 Februari s/d Jumat Agung 7 April.
Pada pertemuan APP1 PSA ini, Sr. Petro mengajak para Oma dan Opa mendalami topik B1: “BERDOA”.

KISAH SI ACONG
Sr. Petro mengawali pendalaman tentang DOA ini dengan Kisah Si Acong: “Tuhan…, ini Owe”
Acong adalah seorang pegawai yang sangat lugu dan setia. Ia punya kebiasaan unik.
Tiap kali makan siang dan pulang ke rumah, dia selalu menyempatkan untuk berhenti di depan pintu Gereja yang dilewatinya untuk berdoa sejenak.
Dua belas tahun sudah, ia lakukan dg setia. Sampai suatu hari ada yang bertanya:
“Acong, apa yang loe lakukan di depan pintu rumah Tuhan setiap hari?”
Jawab Acong: “Owe berdoa”
Ditanya lagi, “Doa apa?”
Acong menjawab: “Singkat saja. Tuhan, ini owe, Acong”
Suatu hari Acong sakit, masuk ruang ICU. Ia merintih kesakitan dan berseru:
“Tuhan, ini owe.” (Setiap rasa sakit mendera tubuhnya, ia selalu panggil nama Tuhan)
Sampai suatu malam Acong bermimpi, Tuhan datang, menyentuh kening Acong dengan lembut sambil berkata: “Acong, ini Owe”
Acong senang sekali, dia langsung duduk. Tapi, yang menyapa sudah menghilang.
Dilepasnya selang infus, dia keluar dari ruang ICU mencari Tuhan.
Perawat kaget dan bertanya: “Mau ke mana, Koh?”
Acong menjawab singkat: “Owe mau nyari Tuhan yang menyapa Owe”
Perawat berpikir Acong ngelindur. Tapi ia heran, waktu diperiksa ternyata Acong sudah sembuh total dan sehat seketika itu juga.
Kita selalu mengira bahwa berdoa itu sulit dan rumit, kita tidak pandai berdoa karena berdoa itu membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan tertentu.
Tetapi dari kisah si Acong ini, kita dapat melihat bahwa:
- Tuhan TIDAK menuntut dari kita doa yang panjang dan dahsyat! Cukup dengan bahasa yang sangat sederhana, namun berasal dari hati yang tulus dan jujur, seperti si Acong, dia hanya bilang “Tuhan, ini Owe!” Tuhan sudah tahu dan mengerti.
- Yang penting pada waktu berdoa adalah bahwa kita sungguh menyadari kehadiran Tuhan!
DOA LIMA JARI – PAUS FRANSISKUS
Selain berdoa bagi diri sendiri, kita juga dapat berdoa bagi orang lain.

PENDALAMAN 3: LATIHAN HAIKU

Di akhir kegiatan, Sr. Petro mengajak para Oma dan Opa untuk Latihan membuat HAIKU.
1.Apa HAIKU itu? Haiku adalah bentuk puisi atau sajak yang pendek, merupakan puisi tradisional Jepang, dan menjadi genre puisi yang cukup banyak digiatkan di Indonesia.
2.Tersusun dari 5 – 7 – 5 suku kata secara berurutan.
3.Untuk menulis sebuah ayat HAIKU kita harus menemukan jawaban atas tiga pertanyaan: apa, kapan, dan di mana. APA: objek utamanya apa dan adegannya seperti apa. KAPAN: adalah waktu, kapan itu terjadi. DI MANA: adalah tempat di mana hal itu terjadi; tempat bisa disebutkan bisa juga tidak disebut, asalkan bisa dicerna oleh Pembaca kira-kira di mana itu terjadi.
Sr. Petro menambahkan, bahwa kita juga dapat berdoa dengan hanya berada dan berdiam di hadapan Tuhan, tidak mengatakan apapun, hanya duduk dan diam, merasakan kehadiran Tuhan di hadapan kita, sebagaimana diutarakannya dalam 2 contoh HAIKU yang ia buat untuk memberikan inspirasi kepada Oma dan Opa.

HAIKU Sr Petro (dengan susunan 5 – 7 – 5):
1.
Senja nan mendung
Duduk diam memandang
Sepi nan hening.
Angin nan sepoi
Di senja nan temaram
Hatiku damai.
2.
Di Sore hari
Ku menghampiri Kapel
Di keheningan
Ku datang, Bunda,
Tak memohon apapun
Hanya bersujud
Ini aku, Bun.
Berdiam di depanmu
Hatiku damai
Ku memandangmu
Kau juga memandangku
Ku cinta engkau
Kau juga mencintaku.
Aku bahagia.
