Panti Lansia Santa Anna (PSA) Teluk Gong dan Grisenda bergabung untuk mengikuti Rekoleksi berupa Pendalaman Topik Adven I “Allahku Solider” pada hari Rabu 6 Desember 2023, mulai jam 15.30 – 17.00 di PSA Teluk Gong, Jakarta Utara.

Sr. Petronella Lie SCMM, yang menjadi Narasumber dalam rangkaian Rekoleksi Masa Adven PSA 2023, mengawali kegiatan dengan Lagu dan Doa Pembuka. Pada Pengantar Topik, Sr. Petro menanyakan kepada Oma-Opa, “Mengapa sih, Yesus, yang adalah Putera Allah, mau-maunya merendahkan diri menjadi manusia yang lemah, rapuh, penuh kekurangan seperti kita?”

Jawaban Oma dan Opa beragam. Ada yang berkata, karena Allah begitu mencintai manusia sehingga Ia mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan mereka. Yang lain lagi mengatakan, untuk menyelamatkan dunia, untuk menebus dan menyelamatkan manusia. Semua jawaban itu tidak ada yang salah.

Sr. Petro kemudian menceritakan sebuah kisah untuk memberikan versi jawaban yang berbeda tentang “mengapa Allah menjelma menjadi manusia”:

Adalah seorang Bapak Tua yang baik hati dan tulus, setia pada keluarganya dan bersih kelakukannya. Sayangnya, dia tidak percaya tentang kisah Kelahiran Yesus, Allah yang menjadi manusia, sebagaimana tertulis dalam Alkitab dan yang diceritakan setiap kali perayaan Natal. Dia menganggap Natal hanya sebagai takhyul belaka.

“Saya benar-benar minta maaf jika Saya membuat kamu sedih,” kata Bapak itu kepada istrinya yang rajin pergi ke Gereja. “Tapi Saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi Saya.”

Pada Malam Natal, Istri – Anak – dan Cucu-cucunyanya pergi menghadiri Perayaan Natal di Gereja. Si Bapak Tua memilih untuk tinggal di rumah saja. “Saya tidak mau menjadi munafik. Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang,” tutur Bapak itu kepada istrinya.

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia memandang keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju yang berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya. Suhu dingin di luar mendorongnya untuk sejenak menikmati hangatnya perapian. Ia duduk sambil membaca koran.

Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan dengan suara ketukan dari jendela depan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir pasti ada orang yang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Namun betapa terkejutnya Bapak itu ketika ia beranjak untuk mengecek suara itu ke pintu masuk. Ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di atas salju dingin. Mereka terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

“Saya tidak dapat membiarkan mahluk kecil itu kedinginan di sini,” pikir si Bapak. “Tapi bagaimana Saya bisa menolong mereka?” ucapnya.

Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni Cucu-cucunya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera ia pun mengambil jaketnya dan pergi menuju ke kandang itu. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tetapi, burung-burung itu tidak masuk ke dalam.

“Makanan pasti bisa menuntun mereka masuk,” pikir si Bapak. Ia pun berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh bingung. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Bapak itu mencoba usaha lain lagi. Dia mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi burung-burung itu justru berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.

“Mereka menganggap Saya sebagai mahluk yang aneh dan menakutkan”, kata Bapak itu pada dirinya sendiri, “dan Saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai Saya. Kalau saja Saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin Saya dapat membawa mereka ke tempat yang aman,” pikir Bapak itu.

Pada saat itu juga, lonceng Gereja berbunyi. Bapak Tua itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, “Sekarang Saya mengerti,” bisiknya dengan terisak. “Sekarang Saya mengerti mengapa ENGKAU mau menjadi manusia.”

Dengan penjelmaan Yesus menjadi manusia melalui peristiwa NATAL, Allah menyatakan solidaritas-Nya kepada kita. Ia mau menjadi SAMA dengan kita, manusia. Ia mau senasib, seperasaan, sepenanggungan dengan kita. Dengan menjadi manusia, Ia mau agar kita dapat mengerti Dia, akan warta gembira keselamatan yang Ia sampaikan kepada kita,

Yesus Kristus lahir sebagai manusia meskipun Dia adalah Putra Allah. Ia hadir dalam sejarah manusia untuk solider pada kita, manusia yang terbatas dan tidak sempurna ini. Kelahiran Yesus di kandang sederhana Betlehem, dan kehidupan-Nya di Nazaret, adalah bentuk solidaritas-Nya kepada manusia yang lemah, miskin, dan menderita. Seluruh kehidupan-Nya menampilkan solidaritasnya yang begitu besar pada kita.

  • Ia tumbuh sebagai Pemuda di kampung halamannya di Nazaret, di sebuah desa yang didiami oleh Para Petani dan Peternak, bergaul dengan orang-orang yang ada di desa.
  • Keluarganya adalah keluarga miskin dan sederhana; ini dapat kita ketahui dari persembahan mereka di Bait Allah, yaitu sepasang burung tekukur dan dua ekor burung merpati (Luk 2: 24).
  • Sebagaimana Yosef, ayah-Nya, adalah seorang Tukang Kayu, Yesus mewarisi pekerjaan tersebut sebagai Tukang Kayu juga.
  • Sebagai Yahudi, Dia melakukan kewajiban-Nya mengunjungi Sinagoga, membaca Kitab Suci (Perjanjian Lama), menjalankan tradisi Yahui dalam kehidupan-Nya sehari-hari.
  • Pada usia 30 tahun, Ia mulai tampil di muka umum, memanggil ke-12 murid-Nya, mengajar, berkotbah, berbagi suka-duka dengan para Pengikut-Nya, membantu banyak orang, melakukan banyak mukjizat dan keajaiban.
  • Pada akhir hidup-Nya, Dia mati di Salib dengan hukuman terhina bagi orang-orang yang sangat hina!

Lewat misteri Inkarnasi, Yesus telah menunjukkan jalan-Nya kepada kita, lewat solidaritas-Nya: dari tahta ke-Allah-anNya, Dia mau turun ke dunia menjadi manusia, yang sama rapuh, lemah, menderita, dan berkekurangan, seperti kita.

Tindakan ini dilakukan Kristus dengan tulus karena cinta. Ia merendahkan Diri sampai serendah-rendahnya, bahkan sampai Ia wafat di kayu salib demi keselamatan manusia yang dicintai-Nya.

Inilah cara Yesus untuk menjadi solider! Dan, Allah membenarkan tindakan Yesus ini, sehingga Ia ditinggikan di atas segala nama. Bagi Allah, tindakan solider Yesus adalah tindakan yang mulia.

Karena itu, seturut teladan-Nya, kita juga hendak menjadi pribadi yang mau solider pada sesama kita, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, dan menderita.

Pada akhir Pengantar Permenungan, Sr. Petro memberikan beberapa pertanyaan refleksi. Oma-Opa dapat mengambil 1 atau 2 untuk direnungkan dan diniatkan agar dengan demikian dapat memperbaiki sikap sehari-hari, terutama kepada orang yang dekat dan yang hidup bersama setiap hari:

  1. Apakah aku pernah mengalami Allah-ku yang solider itu? Dalam peristiwa apa aku merasa Allah solider kepadaku?
  2. Bagaimana aku dapat menunjukkan sikap solider Allah kepada Saudara, Keluarga, Anak, Cucu, Sesama Oma-Opa di Panti, kepada tetanggaku?
  3. Apa yang menghambatku untuk meneladan Allah yang solider?
  4. Bagaimana aku akan berjuang mengatasi hambatan untuk meneladan sikap solider Allah?
  5. Kepada siapa aku berniat untuk segera bersikap solider?

Setelah Lagu Selingan di akhir permenungan, Para Oma dan Opa diajak untuk melakukan kegiatan “Membuat Kostum dari Kertas Koran Bekas”. Mengapa menggunakan Kertas Koran Bekas? Koran adalah benda sederhana, sering dibuang seperti barang tidak berguna apabila sudah dibaca. Tetapi, bila kita mau memberikan perhatian, upaya, dan kreatifitas kita, maka Koran ini akan bisa menjadi sangat indah, berharga, dan dapat menggembirakan hati banyak orang.

Kertas Koran itu adalah diri kita, yang kerap menjadi kotor dan tidak berharga karena dosa-dosa kita. Tetapi Yesus mau datang ke dunia untuk menyelamatkan kita; Dia mau mengangkat dan mengubah hidup kita agar berguna, berharga, dan menjadi berkat bagi dunia dan sesama kita.

Dalam aktivitas ini, digunakan semua bahan-bahan sederhana yang sehari-hari: kertas koran bekas, gunting, lem, dan selotip.

  1. Tiap Kelompok diberikan alat-alat, masing-masing boleh menggunakannya untuk digunakan memperindah kertas Koran agar menjadi Kostum yang menarik. Setiap anggota diberi kesempatan untuk berinisiatif dan memberikan ide. Waktu 15 menit.
  2. Hasil desain dari setiap Kelompok kemudian dipamerkan kepada semua yang hadir.

Oma dan Opa sangat senang dengan kegiatan ini. Sesudah memamerkan Kostumnya, Opa Yohanes meminta waktu untuk berbicara di depan umum. Beliau mengatakan, betapa dia sangat berbahagia pada hari ini karena boleh mengambil bagian dalam kegiatan Adven untuk mempersiapkan diri menyambut Natal, Kelahiran Sang Penebus, yang sudah begitu rendah hati mau bersolider dengan kita manusia.